GELORA.CO - Pengakuan pedagang es gabus bernama Suderajat alias Jajat (50) kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya terbantahkan.
Jajat yang sebelumnya mengaku tinggal di rumah kontrakan dan menunggak sewa, ternyata diketahui telah memiliki rumah sendiri di Kabupaten Bogor sejak belasan tahun lalu.
Pedagang es gabus Suderajat (50) tak bisa lagi mengelak setelah Ketua RW setempat membongkar fakta bahwa dirinya telah memiliki rumah sendiri.
Hal itu bertolak belakang dengan pengakuan Jajat kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) yang menyebut dirinya tinggal di rumah kontrakan.
Sebelumnya, Jajat mengaku menunggak biaya kontrakan hingga mendapat bantuan dari Dedi Mulyadi. Pengakuan tersebut disampaikan saat Jajat bertemu langsung dengan KDM, usai dirinya menjadi sorotan publik karena dihardik oknum Bhabinkamtibmas dan Babinsa di Kemayoran, Jakarta Utara.
Dalam peristiwa itu, Jajat dituduh menjual es kue berbahan spons. Namun hasil pemeriksaan Tim Dokkes memastikan es yang dijual aman dikonsumsi.
Dua oknum aparat tersebut telah meminta maaf dan dijatuhi sanksi institusi.
Gelombang simpati publik pun mengalir, termasuk bantuan dari berbagai pihak dan perhatian langsung dari Dedi Mulyadi.
Dalam pertemuan itu, Jajat menceritakan kisah hidupnya, termasuk klaim bahwa orang tuanya menjual rumah di Mangga Besar dan dirinya hanya mendapat bagian Rp 200 ribu.
Ia juga mengaku kini tinggal mengontrak di kawasan Citayam dengan biaya Rp 850 ribu per bulan.
Ketika bertemu KDM, Suderajat bercerita soal pembagian warisan orang tuanya dari hasil penjualan rumah di Mangga Besar.
"Gini pak saya punya rumah dijual sama orang tua saya, di Mangga Besar. Rp 40 juta zaman dulu, tapi saya dikasih Rp 200 ribu, saya dibohongin sama orang tua saya," katanya.
Kemudian orang tuanya membeli rumah di Kabupaten Bogor.
"Rumahnya dijual sama ade," kata Jajat.
Lalu Jajat mengaku tinggal di kontrakan bersama istri dan anak.
"Ngontrak deket Citayam, sebulan Rp 850 ribu," katanya.
Namun, Ketua RW Rawapanjang, Kabupaten Bogor, mengungkap fakta berbeda.
Menurutnya, Suderajat telah menempati rumah milik sendiri sejak 2007.
“Sudah 19 tahun di sini, rumah sendiri. Sekarang bahkan dapat bantuan rutilahu,” ujar Ketua RW.
Mendengar penjelasan itu, Dedi Mulyadi langsung menegur Jajat dan menyayangkan kebohongan yang disampaikan kepadanya.
“Babeh bilangnya ngontrak, berarti bohong. Kenapa sih bohong terus?” kata Dedi.
Ketua RW menegaskan rumah tersebut merupakan peninggalan orang tua Jajat, dibangun di atas tanah milik keluarga.
Dedi Mulyadi pun mengingatkan bahwa kebohongan tersebut bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga mencederai jasa orang tua Jajat sendiri
Sumber: Wartakota
