Pernyataan Dharma Pongrekun soal Kondisi Darurat, Masyarakat Diimbau Siap Hadapi 7 Hari Krisis

Pernyataan Dharma Pongrekun soal Kondisi Darurat, Masyarakat Diimbau Siap Hadapi 7 Hari Krisis

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Pernyataan Dharma Pongrekun soal Kondisi Darurat, Masyarakat Diimbau Siap Hadapi 7 Hari Krisis

GELORA.CO -
  Pernyataan mantan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Komjen Pol (Purn) Dharma Pongrekun, menjadi perhatian publik.

Dalam sejumlah kesempatan, ia mengingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi kemungkinan kondisi darurat dan menyarankan warga menyiapkan panic kit untuk bertahan selama tujuh hari.

Imbauan tersebut bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan sebagai langkah antisipasi menghadapi berbagai risiko yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Mulai dari gangguan keamanan, bencana, hingga kondisi krisis yang berdampak pada kehidupan masyarakat.

Komjen Pol (P) Dharma Pongrekun menekankan bahwa kesiapsiagaan masyarakat merupakan bagian penting dari ketahanan nasional.

Menurutnya, warga sebaiknya memiliki kesadaran untuk mandiri dalam kondisi darurat, terutama pada fase awal krisis ketika bantuan belum sepenuhnya menjangkau semua wilayah.

Ia menyebutkan bahwa periode tujuh hari pertama dalam situasi darurat sering kali menjadi fase paling krusial.

Pada masa inilah masyarakat dituntut mampu bertahan dengan sumber daya yang ada.

Apa Itu Panic Kit?


Panic kit atau perlengkapan darurat adalah kumpulan kebutuhan dasar yang disiapkan untuk digunakan dalam kondisi genting.

Panic kit biasanya disimpan di rumah dan mudah dijangkau jika sewaktu-waktu diperlukan.

Isi panic kit umumnya meliputi:

  • Persediaan makanan dan minuman tahan lama
  • Obat-obatan pribadi dan P3K
  • Senter dan baterai cadangan
  • Dokumen penting dalam bentuk salinan
  • Alat komunikasi dan power bank

Kesiapan ini dinilai penting untuk memastikan kebutuhan dasar tetap terpenuhi selama masa darurat.

Mengapa Tujuh Hari Dianggap Penting?


Dalam berbagai skenario kebencanaan dan krisis, tujuh hari pertama kerap menjadi masa transisi sebelum kondisi mulai stabil.

Pada periode ini, distribusi logistik, pemulihan layanan, dan koordinasi bantuan masih berlangsung.

Oleh karena itu, kesiapan individu dan keluarga menjadi faktor penentu untuk mengurangi risiko dan dampak terburuk.

Imbauan ini juga sejalan dengan konsep mitigasi risiko yang diterapkan di banyak negara.

Pernyataan Dharma Pongrekun menuai beragam respons dari masyarakat.

Sebagian menilai imbauan tersebut sebagai langkah bijak agar warga lebih waspada dan mandiri.

Namun, ada pula yang khawatir pernyataan tersebut disalahartikan sebagai prediksi pasti terjadinya krisis besar.

Para pengamat menilai, pesan utama yang perlu dipahami publik adalah pentingnya kesiapsiagaan, bukan kepanikan.

Kesiapan menghadapi kondisi darurat merupakan bagian dari edukasi kebencanaan yang perlu ditanamkan sejak dini.

Dalam menghadapi potensi risiko, peran pemerintah dan masyarakat harus berjalan seiring.

Pemerintah bertanggung jawab menyiapkan sistem perlindungan dan respons darurat, sementara masyarakat diharapkan memiliki kesadaran dan kesiapan dasar.

Dengan kesiapsiagaan yang baik, potensi kepanikan publik dapat ditekan, dan dampak kondisi darurat dapat diminimalkan.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum jelas sumbernya.

Menyiapkan panic kit bukan berarti meyakini krisis pasti terjadi, melainkan bentuk kewaspadaan yang rasional dan bertanggung jawab.

Kesiapan hari ini dinilai sebagai investasi keselamatan di masa depan.***
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita