Jerman Bangkitkan 'Raksasa Tidur', Siapkan Militer Terkuat Sejak Perang Dunia II

Jerman Bangkitkan 'Raksasa Tidur', Siapkan Militer Terkuat Sejak Perang Dunia II

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Jerman Bangkitkan 'Raksasa Tidur', Siapkan Militer Terkuat Sejak Perang Dunia II

GELORA.CO - 
Di tengah ketidakpastian geopolitik yang kian mencekam, benua biru kini sedang menyaksikan perlombaan senjata paling masif sejak berakhirnya Perang Dingin. Eropa, yang selama puluhan tahun tertidur di bawah payung perlindungan Amerika Serikat, kini dipaksa terbangun oleh realitas pahit bahwa kedaulatan mereka tak lagi bisa digantungkan pada janji-janji asing.

Militer Eropa bertransformasi dari sekadar kekuatan pendukung menjadi mesin perang mandiri yang terus diperkuat, menciptakan benteng pertahanan baru guna menghadapi ancaman besar yang kini mengetuk pintu perbatasan mereka di Timur.

Jerman berada di garis terdepan transformasi ini. Mulai awal tahun 2026, setiap pemuda Jerman berusia 18 tahun menerima kuesioner wajib untuk mendata kesiapan dinas militer mereka. Meskipun saat ini masih bersifat sukarela, langkah hukum ini merupakan fondasi bagi ambisi besar Kanselir Friedrich Merz untuk membangun angkatan darat konvensional terkuat di Eropa.

Targetnya jelas: Bundeswehr harus kembali menjadi kekuatan yang disegani, mencapai 260.000 personel aktif dan 200.000 pasukan cadangan pada tahun 2035, menyamai kekuatannya di era Perang Dingin.

Ambisi Friedrich Merz untuk membangun militer Jerman bukanlah tanpa alasan. Sebagai pemimpin ekonomi terbesar di Eropa, Merz menyadari bahwa Jerman tidak bisa lagi hanya menjadi raksasa ekonomi namun "kerdil" secara militer. Perang di Ukraina menjadi titik balik yang menyadarkannya bahwa stabilitas Eropa hanya bisa dijamin dengan kekuatan yang mampu menciptakan efek jera.

Dengan anggaran pertahanan yang melonjak hingga 108 miliar euro (Rp1.950 triliun) atau setara 2,5 persen dari PDB tahun ini, Merz ingin memastikan bahwa Jerman mampu memimpin pertahanan kolektif Eropa tanpa harus menunggu perintah atau restu dari Washington.

Konsep "Angkatan Darat Terkuat di Eropa" yang dikejar Jerman mencakup kualifikasi teknologi militer mutakhir dan kesiapan tempur skala penuh. Hal ini mencakup modernisasi total armada tank Leopard 2, penguasaan sistem pertahanan udara jarak jauh, hingga integrasi kecerdasan buatan dalam komando tempur.

Jerman tidak hanya mengandalkan jumlah personel, tetapi juga kualitas peralatan konvensional yang mampu beroperasi dalam medan perang intensitas tinggi, menjadikan Bundeswehr sebagai tulang punggung operasional bagi seluruh negara anggota NATO di daratan Eropa.

Langkah masif ini dipicu oleh satu faktor kunci: Uni Eropa kini menyadari bahwa mereka tidak lagi bisa mengandalkan militer Amerika Serikat. Kekecewaan ini memuncak seiring dengan kebijakan "nativistik" Presiden Donald Trump yang dianggap menghina integritas Eropa.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan 84 persen warga Jerman tidak lagi percaya AS akan menjamin keamanan mereka. Strategi Keamanan Nasional Trump yang dipublikasikan November 2025 lalu dinilai merendahkan institusi di Brussel, menciptakan keretakan diplomatik terdalam yang memaksa Eropa untuk memikirkan "NATO Eropa" tanpa ketergantungan pada Washington.

Ketiadaan jaminan dari AS menjadi sangat krusial mengingat kekuatan militer Rusia saat ini yang telah beralih ke mode ekonomi perang penuh. Rusia di tahun 2026 memiliki keunggulan dalam hal jumlah personel yang memiliki pengalaman tempur langsung serta produksi amunisi yang melampaui gabungan beberapa negara besar Eropa.

Rusia telah memperkuat armada drone pengintai dan serangan jarak jauh, yang dikombinasikan dengan sistem pertahanan udara berlapis, menjadikannya lawan yang sangat tangguh jika terjadi konfrontasi konvensional.

Sebaliknya, meskipun gabungan negara-negara Eropa secara teknis memiliki PDB yang jauh lebih besar dan teknologi yang lebih canggih, militer mereka masih terfragmentasi oleh ego nasional dan perbedaan sistem senjata. Tanpa logistik dan intelijen satelit AS, Eropa saat ini masih berjuang untuk melakukan mobilisasi cepat dalam skala besar.

Namun, dengan kenaikan belanja pertahanan Jerman hingga 3,5 persen PDB pada 2030, keseimbangan kekuatan ini mulai bergeser seiring dengan niat Eropa untuk membentuk penangkal nuklir gabungan Inggris-Prancis sebagai pengganti payung nuklir Amerika.

Ketegangan ini telah membuat Moskow tidak nyaman. Duta Besar Rusia untuk Jerman, Sergey Nechayev, bahkan menyebut Jerman tengah mempercepat persiapan konfrontasi militer skala penuh. Namun, bagi warga Jerman, masa depan Eropa sedang dipertaruhkan.

Delapan dari sepuluh warga Jerman kini yakin bahwa Vladimir Putin tidak berniat damai dan kemungkinan besar akan memperluas perang ke negara NATO pada tahun 2029. Transformasi militer Jerman dan Eropa di tahun 2026 ini bukan lagi sekadar pilihan politik, melainkan perjuangan eksistensial untuk bertahan hidup di dunia yang kian tidak ramah

Militer Terkuat di Eropa


Pada Perang Dunia I, Jerman muncul sebagai kekuatan militer darat paling dominan di dunia melalui doktrin yang sangat terorganisir dan efisien. Di bawah kepemimpinan militer yang kaku, Kekaisaran Jerman membangun tentara yang didukung oleh mobilisasi massal dan industri baja yang luar biasa. Kekuatan utama mereka terletak pada infanteri yang sangat terlatih serta keunggulan teknologi artileri berat buatan Krupp, yang mampu menghancurkan benteng-benteng pertahanan terkuat di Eropa dalam waktu singkat.

Selain kekuatan darat, Jerman juga menantang supremasi maritim Inggris dengan membangun Hochseeflotte atau armada laut lepas. Meskipun kalah dalam jumlah kapal permukaan, Jerman memperkenalkan ancaman baru yang sangat ditakuti: kapal selam atau U-Boat. Strategi perang kapal selam tak terbatas ini hampir mencekik jalur pasokan ekonomi Sekutu di Samudra Atlantik, menjadikan Jerman sebagai pelopor peperangan bawah laut modern yang mengubah jalannya sejarah maritim.

Namun, kekalahan dalam Perang Dunia I membawa Jerman pada keruntuhan total melalui Perjanjian Versailles tahun 1919. Kondisi Jerman setelah perang pertama sangat memprihatinkan; militer mereka dipangkas secara ekstrem hingga hanya tersisa 100.000 personel tanpa pesawat tempur, tank, maupun kapal selam. Secara ekonomi, Jerman hancur akibat hiperinflasi dan beban reparasi perang yang mustahil dibayar, menciptakan ketidakstabilan sosial yang menjadi celah bagi kebangkitan ideologi radikal.

Memasuki era Perang Dunia II, Jerman di bawah rezim Nazi melakukan persenjataan kembali secara ilegal dan masif. Kekuatan militer mereka berevolusi melalui doktrin Blitzkrieg atau perang kilat, yang menggabungkan serangan tank terpusat (Panzer), infanteri bermotor, dan dukungan udara jarak dekat dari Luftwaffe. Kombinasi ini sangat efektif sehingga Jerman mampu menaklukkan Polandia, Prancis, dan sebagian besar Eropa Barat hanya dalam hitungan minggu, sebuah pencapaian yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Keunggulan teknologi Jerman pada Perang Dunia II juga mencakup inovasi yang jauh melampaui zamannya. Mereka menciptakan roket balistik pertama di dunia, V-2, serta pesawat jet tempur pertama yang operasional, Messerschmitt Me 262. Di medan darat, tank-tank seperti Tiger dan Panther menjadi momok yang sangat ditakuti oleh pasukan Sekutu karena ketebalan lapis baja dan akurasi meriamnya. Jerman benar-benar mengubah peperangan menjadi sebuah perlombaan teknologi tinggi.

Namun, kekuatan besar ini kembali hancur akibat perang atrisi di dua front yang tidak berkelanjutan. Setelah kekalahan telak di Stalingrad dan pendaratan Normandia, mesin perang Jerman mulai kehabisan sumber daya dan personel. Pada Mei 1945, Jerman menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Kondisi mereka setelah Perang Dunia II jauh lebih buruk daripada perang sebelumnya; seluruh wilayah Jerman diduduki, infrastruktur kota-kota besar rata dengan tanah, dan negara tersebut akhirnya dibelah menjadi dua bagian: Barat dan Timur.

Setelah 1945, Jerman mengalami periode de-militerisasi total. Militer mereka dibubarkan sepenuhnya dan para jenderalnya diadili dalam Pengadilan Nuremberg. Bangsa Jerman dilarang memiliki angkatan bersenjata selama bertahun-tahun sebagai hukuman atas kekejaman perang. Kondisi ini memaksa Jerman untuk fokus sepenuhnya pada pembangunan kembali ekonomi dari nol, yang kemudian dikenal sebagai Wirtschaftswunder atau "Keajaiban Ekonomi", menjadikannya kekuatan ekonomi nomor satu di Eropa meskipun tanpa kekuatan militer.

Selama era Perang Dingin, Jerman Barat akhirnya diizinkan membentuk Bundeswehr pada tahun 1955 hanya sebagai bagian dari pertahanan kolektif NATO. Tentara ini didesain sangat terbatas dan berada di bawah kontrol sipil yang sangat ketat untuk mencegah terulangnya sejarah kelam militerisme. Jerman menjadi negara yang sangat pasifis, di mana keterlibatan militer di luar negeri menjadi hal yang sangat tabu dan dihindari oleh rakyat maupun pemerintah selama puluhan tahun.

Hingga awal 2020-an, kondisi militer Jerman sering dikritik oleh sekutu NATO-nya karena kekurangan investasi dan peralatan yang usang. Selama hampir 80 tahun sejak berakhirnya Perang Dunia II, Jerman lebih memilih menjadi "raksasa ekonomi yang kerdil secara militer". Budaya antimiliterisme tertanam sangat kuat dalam jiwa masyarakat Jerman sebagai bentuk penebusan dosa masa lalu atas agresi yang mereka lakukan di dua perang dunia sebelumnya.

Namun, titik balik besar terjadi pada tahun 2022 akibat invasi Rusia ke Ukraina, yang memicu perubahan kebijakan dramatis yang disebut Zeitenwende. Di bawah pemerintahan Kanselir Olaf Scholz dan diteruskan dengan lebih agresif oleh Friedrich Merz pada 2026, Jerman mulai membuang pasifisme mereka. Mereka mulai menyadari bahwa tanpa kekuatan militer yang tangguh, kemakmuran ekonomi mereka akan selalu terancam oleh agresi pihak asing.

Pada tahun 2026 ini, Jerman tercatat sedang membangun kembali kejayaan militernya dengan anggaran yang memecahkan rekor. Dengan dana khusus sebesar 108 miliar euro, Jerman beralih dari negara yang takut pada militernya sendiri menjadi negara yang berambisi memimpin pertahanan Eropa. Inovasi teknologi yang dulu menjadi kekuatan mereka di masa lalu kini kembali dihidupkan melalui sistem senjata digital, pertahanan siber, dan armada tank generasi terbaru.

Transformasi Jerman di tahun 2026 mencerminkan siklus sejarah yang luar biasa; dari pusat militerisme dunia, hancur total hingga menjadi pasifis, dan kini kembali menjadi benteng pertahanan utama Eropa. Perbedaannya, kebangkitan militer Jerman kali ini bukan untuk agresi wilayah, melainkan sebagai respons atas hilangnya kepercayaan pada Amerika Serikat dan ancaman nyata dari Timur, menandai era baru di mana Jerman siap memikul tanggung jawab keamanan kolektif di benua biru.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita