GELORA.CO - Pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit di depan anggota Komisi III DPR pada Senin (21/1) dinilai oleh Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo sebagai bentuk alarm demokrasi berbunyi keras.
“Ketika Kapolri menyampaikan pernyataan akan mempertahankan posisi intitusinya sampai titik darah penghabisan dan memerintahkan semua jajarannya. Alarm darurat demokrasi berbunyi keras,” kata Gatot Nurmantyo dikutip dari tayangan video yang tersebar di media sosial, Sabtu (31/01/2026).
Ia kemudian melanjutkan apa yang disampaikan Kapolri merupakan bentuk bahasa konflik, bahasa tekanan kekuasaan, bahasa intimidasi dan merupakan puncak pembangkangan terhadap Negara yang dilakukan Kapolri.
Gatot juga mencatat tiga kesalahan yang dibuat oleh Kapolri Listyo Sigit dalam merespon tuntutan publik soal percepatan Reformasi Kepolisian.
“Yang pertama membentuk tim reformasi tandingan, menerbitkan Peraturan Kepolisian nomo 10 dan mengunci ruang koreksi walaupun sudah ada Mahkamah Konstitusi. Ini nantang di ruang publik secara terbuka dengan diksi ekstrem,” ungkapnya saat mengisi kuliah umum di Universitas Sangga Buana YPKP, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/01/2026) dikutip dari Republik
Menurutnya Ini adalah sinyal bahaya bahwa displin konstitusi sedang diuji secara terbuka. Ia pun juga mempertanyanyakan sebenarnya pertanyaan Kapolri saat itu ditujukan pada siapa.
“Iya dong, dia menantang kan, tantangannya ditujukan siapa. Pertanyaan mendasar tidak perlu dihindari harus dijawab itu. Siapa sebenarnya target tantangan Kapolri. Artinya Kapolri sedang menguji batas kewenangan Presiden sebagai pemegang mandat konstitusional tertinggi,” tegasnya.
Secara implisit kata Gatot, Kapolri ingin mengatakan kepada Presiden jangan sentuh stuktur Polri dan pernyataan ini menciptakan tekanan simbolik pada Presiden.
Pernyataan atau pembangkangan dari Kapolri ini sebutnya merusak institusi Polri yang dilakukan oleh satu orang yang namanya Listyo Sigit.
“Saya katakana disini bahwa saudara Jenderal Polisi Listyo Sigit tidak beretika bahkan cenderung kurang ajar, tidak pada tempatnya seorang Kapolri bicara seperti itu,” kata Gatot.
Kapolri Listyo Sigit mengira kata Gatot bahwa Presien Prabowo itu adalah boneka yang bisa ditimang, tidak punya mata, tidak punya telinga, tidak punya mulut dan semaunya Kapolri berbuat.
“Kurang ajar ini namanya dan Jenderal Polisi Listyo Sigit sudah melakukan pengkianatan bersama-sama dukungan anggota DPR terhadap Presiden dan terhadap Negara,” ujarnya.
Gatot juga merasa geram dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang menyebut bahwa Menteri dalam Negeri juga tidak mau Polisi di bawah kementrian.
“Siapa dia, cuma Menteri dalam Negeri ngapain bicara begitu, siapa pimpinan dia, harusnya sadar dong, apakah kelakuannya seperti itu,” sindirnya.
“Saya ingatkan Jenderal Polisi Listyo Sigit, Presiden kita Jenderal TNI Purnawirawan Prabowo Subianto itu adalah mantan Danjen Kopasus, Pasukan Khusus, mantan Pangkostrad, ndak apa-apanya kamu dan dia sekarang Presiden sekaligus Kepala Negara, jangan dianggap boneka, itu kurang ajar,” ucapnya berapi-api.
