GELORA.CO - Di tengah meningkatnya ketegangan terkait aksi protes di Iran, para pejabat Eropa dilaporkan meyakini bahwa Amerika Serikat dapat melancarkan serangan militer terhadap Iran dalam 24 jam ke depan. Klaim ini muncul setelah berhari-hari pernyataan provokatif dari Presiden AS Donald Trump yang mendukung para demonstran Iran.
Ketegangan seputar Iran meningkat drastis, dengan laporan yang mengutip pejabat Eropa yang tak disebutkan namanya mengklaim bahwa serangan militer AS bisa segera terjadi. Penilaian ini menyusul serangkaian pernyataan yang semakin langsung dari mantan Presiden Donald Trump, yang secara terbuka mendorong para pengunjuk rasa anti-pemerintah di Iran.
Situasi makin memanas setelah Trump menyapa para demonstran Iran melalui media sosial dengan mengatakan, “Bantuan sedang dalam perjalanan. Patriot Iran, teruslah berdemonstrasi – ambil alih institusi-institusi kalian.”
Ia juga menyerukan agar mereka merekam nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan, dengan peringatan bahwa mereka akan membayar harga yang sangat mahal. Pernyataan-pernyataan ini secara luas ditafsirkan sebagai sinyal kemungkinan intervensi AS.
Perkiraan ini diperkuat oleh laporan media AS sebelumnya bahwa pemerintah sedang secara aktif meninjau opsi militer terhadap Teheran.
Menurut klaim terbaru, para pejabat Eropa kini menilai bahwa intervensi semacam itu bisa dimulai dalam jangka waktu 24 jam. Linimasa yang mengkhawatirkan ini telah memicu upaya diplomatik mendesak.
Pada saat yang sama, laporan media AS menyebutkan bahwa negara-negara Arab Teluk, yang khawatir akan pecahnya konflik regional, secara aktif melobi Washington agar menghindari aksi militer, dengan menyoroti potensi gangguan serius pada pasar minyak dan risiko perang yang lebih luas.
Konteks lebih luas dan kekhawatiran stabilitas kawasan
Peringatan yang diduga ini muncul di tengah berlanjutnya protes di Iran yang dimulai pada 28 Desember akibat keluhan ekonomi. Otoritas Iran menyalahkan AS dan Israel atas upaya mengobarkan keresahan tersebut.
Bagi negara-negara tetangga seperti Türkiye, yang memprioritaskan stabilitas kawasan dan menentang intervensi asing, kemungkinan serangan militer AS secara tiba-tiba dipandang sebagai ancaman besar, yang berisiko memicu konflik dahsyat yang dapat meluas lintas batas dan mengguncang seluruh Timur Tengah.
