Poltekkes Bandung Kab Gelar Pengabdian Masyarakat: Tingkatkan Kesehatan Penderita Diabetes

Poltekkes Bandung Kab Gelar Pengabdian Masyarakat: Tingkatkan Kesehatan Penderita Diabetes

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Bandung kembali menunjukkan komitmennya dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang digelar di RW 11 dan RW 12, Kelurahan Cilendek Barat, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Kegiatan bertajuk “Program Penerapan Pelatihan Relaksasi Autogenik untuk Menurunkan Stres dan Gula Darah Klien DM Tipe II” ini berlangsung dari Agustus hingga November 2025, menjadi contoh nyata bagaimana riset akademik diterapkan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes mellitus (DM) tipe II di tingkat masyarakat. Dengan melibatkan dosen dan mahasiswa Poltekkes Bandung kampus Bogor, program ini tidak hanya memberikan pelatihan, tapi juga pendampingan langsung yang berdampak pada penurunan stres dan kadar gula darah peserta.


Program ini dipimpin oleh tim dosen Poltekkes Bandung, yaitu Ida Farida, APPd., M.Kes.; Meirina, S.Kep., M.Kep.; dan Dwi Susilowati, APPd., M.Kes., yang bertanggung jawab atas tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan dibagi menjadi dua komponen utama. Pertama, pelatihan relaksasi autogenik bagi 10 kader kesehatan selama 16 hari pada 11–26 Agustus 2025. Kedua, pendampingan langsung bagi 10 klien DM tipe II selama tiga minggu pada 6–31 Oktober 2025. Relaksasi autogenik, teknik relaksasi diri yang melibatkan visualisasi dan afirmasi positif, dipilih karena terbukti efektif menurunkan stres—faktor pemicu utama lonjakan gula darah pada penderita diabetes. Teknik ini berasal dari riset sebelumnya yang menunjukkan penurunan kadar glukosa puasa hingga 20 mg/dL setelah satu bulan latihan rutin.

Tujuan program ini jelas: menerapkan temuan riset ke praktik masyarakat, selaras dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Di Cilendek Barat, di mana prevalensi DM tipe II mencapai 10 persen di kalangan usia produktif, program ini hadir sebagai solusi komunitas. Mahasiswa Keperawatan Poltekkes Bandung terlibat penuh sejak persiapan, membantu fasilitasi sesi latihan dan monitoring harian. Evaluasi melibatkan partisipatif dari petugas Puskesmas Gang Kelor, aparat desa Cilendek Barat, tokoh masyarakat, kader kesehatan, mahasiswa, dan dosen. Hasilnya menjanjikan: setelah satu bulan pendampingan, peserta menunjukkan penurunan signifikan stres dan gula darah, membuktikan efektivitas relaksasi autogenik sebagai terapi suportif non-farmakologis.

Ida Farida, sebagai ketua tim, menyatakan bahwa program ini menjadi model replikasi untuk daerah lain. “Kami lihat penurunan stres dan gula darah pada klien DM tipe II setelah latihan rutin. Ini bukti bahwa relaksasi sederhana bisa jadi pelengkap pengobatan medis, terutama bagi warga yang biaya obat terbatas,” ujar Ida Farida dikutip https://poltekkesbandungkab.org. Pendampingan tidak berhenti pada Oktober; monitoring lanjutan dilakukan hingga November untuk pastikan keberlanjutan. Keterlibatan kader posyandu memastikan teknik relaksasi ini diteruskan di tingkat keluarga, mengurangi beban Puskesmas dan mendorong self-management diabetes.

Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung, melalui kampus Bogor, membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar kegiatan formal, tapi transformasi nyata. Di Cilendek Barat, di mana akses layanan kesehatan terbatas bagi keluarga prasejahtera, program ini selamatkan nyawa melalui pencegahan komplikasi diabetes. Ke depan, tim berencana perluas ke 5 RW lain di Bogor Barat pada 2026, terintegrasi dengan edukasi gizi untuk cegah obesitas—penyebab utama DM tipe II. Dengan PKM seperti ini, Poltekkes Bandung bukan hanya sekolah, tapi mitra masyarakat untuk Bogor sehat dan mandiri.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita