Kegiatan fogging ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Dinkes Muaro Jambi yang merangkap Plt Kepala Dinas, dr. Aang Hambali, dengan melibatkan tim khusus dari Poltekkes Sengeti. Tim yang terdiri dari dosen, mahasiswa Program Studi Kesehatan Lingkungan, dan Teknologi Laboratorium Medis ini dikerahkan untuk menyemprotkan insektisida di area rawan genangan air, semak belukar, dan fasilitas pendukung MTQ seperti tenda kafilah, masjid, dan sanitasi umum. “Kami melakukan fogging ini sebagai langkah antisipasi terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, terutama untuk mencegah merebaknya penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria,” ujar dr. Aang Hambali, seperti dikutip dari https://poltekkessengeti.org. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini mengikuti standar operasional prosedur (SOP) Kementerian Kesehatan untuk acara keramaian massa, dengan target mencakup seluruh zona acara untuk memastikan kenyamanan dan kesehatan kafilah dari berbagai daerah.
Peningkatan intensitas fogging ini didasari data epidemiologi Muaro Jambi yang menunjukkan tren naik kasus DBD sepanjang 2025, dengan 150 kasus terkonfirmasi hingga Oktober, serta malaria yang masih endemik di wilayah pedalaman seperti Sengeti akibat curah hujan tinggi dan genangan air pasca-musim hujan. Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor DBD dan Anopheles untuk malaria sering berkembang biak di area lembab, yang berpotensi meledak saat ribuan orang berkumpul. Poltekkes Sengeti, yang berbasis di Kecamatan Sengeti, memanfaatkan keahlian mahasiswanya untuk pemetaan hotspot nyamuk menggunakan aplikasi digital, sehingga fogging tidak hanya reaktif tapi juga preventif. “Mahasiswa kami terlibat langsung dalam surveilans entomologi, mengidentifikasi sarang nyamuk dan mendistribusikan larvasida ke rumah-rumah warga di sekitar venue MTQ. Ini bagian dari pengabdian masyarakat kami untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2045,” jelas Direktur Poltekkes Sengeti, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes.
Lebih dari itu, kegiatan ini tidak terbatas pada fogging semata. Tim Poltekkes Sengeti juga melakukan sosialisasi pencegahan di posko kesehatan MTQ, termasuk edukasi 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, plus Menabur larvasida) kepada warga dan kafilah. Pemeriksaan kesehatan dini seperti tes darah cepat untuk DBD juga disediakan, dengan target 500 peserta. Kolaborasi ini melibatkan Dinkes Provinsi Jambi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muaro Jambi, memastikan sanitasi lingkungan optimal. Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi, melalui Bupati Al Haris, optimis menjadi tuan rumah terbaik, dengan anggaran Rp 500 juta dialokasikan untuk aspek kesehatan acara.Dampak kegiatan ini sudah terasa: survei awal menunjukkan penurunan 20% indeks wadah (larva nyamuk) di area Sengeti pasca-fogging. Seorang warga setempat, Pak Rahman (55), menyambut baik inisiatif ini. “Anak saya pernah kena DBD tahun lalu, untung sekarang ada Poltekkes yang gencar fogging. MTQ jadi aman, InsyaAllah,” katanya. Poltekkes Sengeti berencana melanjutkan fogging pasca-acara hingga Desember 2025, terintegrasi dengan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
Melalui gencaran fogging ini, Poltekkes Sengeti tidak hanya mengantisipasi DBD dan malaria, tapi juga memperkuat peran vokasi kesehatan dalam pembangunan daerah. Di tengah gelaran MTQ yang memadukan nilai religius dan budaya, kesehatan menjadi pondasi utama. Dengan kolaborasi solid, Muaro Jambi siap menyambut ribuan tamu dengan tangan terbuka—bebas dari ancaman nyamuk pembawa maut.
