Kepala Dinkes Nunukan, dr. Hj. Rina Nurhaliza, M.Kes, menjelaskan bahwa Germas memiliki tujuh pilar utama: aktivitas fisik 30 menit sehari, konsumsi buah dan sayur, tidak merokok, tidak konsumsi alkohol, periksa kesehatan rutin, jaga kebersihan lingkungan, dan gunakan jamban sehat. “Kami dorong masyarakat terapkan Germas untuk cegah PTM yang jadi pembunuh nomor satu di Indonesia. Di Nunukan, dengan mobilitas tinggi pekerja migran dan tenaga kerja asing, risiko PTM meningkat jika tidak ada pencegahan dini,” ujar dr. Rina, seperti dikutip dari https://poltekkesnunukan.org. Ia menambahkan bahwa PTM sering muncul tanpa gejala awal, sehingga edukasi dan skrining rutin jadi kunci.
Poltekkes Kemenkes Nunukan memainkan peran strategis dalam dorongan ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes telah melibatkan 150 mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk sosialisasi Germas di 20 desa prioritas seperti Sebatik dan Krayan. Direktur Poltekkes Nunukan, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa lembaga ini siap jadi mitra utama Dinkes. “Mahasiswa kami turun langsung edukasi tujuh pilar Germas, dari senam bersama hingga demo memasak sayur lokal seperti kangkung dan bayam. Di perbatasan, kami juga ajak warga cek kesehatan rutin untuk deteksi hipertensi dan diabetes dini,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan posko kesehatan mobile di pelabuhan dan bandara Nunukan, dengan skrining gratis untuk pekerja migran.
Program ini selaras dengan target nasional Kemenkes untuk turunkan prevalensi PTM hingga 15 persen pada 2026. Di Nunukan, di mana 40 persen penduduk adalah pekerja sektor informal, Germas jadi solusi murah dan efektif. Hasil awal menunjukkan peningkatan kesadaran 70 persen di desa sasaran, dengan penurunan kasus hipertensi baru 20 persen sejak Januari 2025. “Kami integrasikan Germas ke kurikulum PKL mahasiswa, agar edukasi berkelanjutan. Nunukan sehat dimulai dari keluarga,” tambah Dr. Siti.
Dengan dorongan Poltekkes Nunukan, Germas bukan lagi himbauan, tapi gaya hidup warga perbatasan. Edukasi, skrining, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Nunukan bebas PTM dan generasi sehat di garis depan Indonesia.
