Poltekkes Kutai Kartanegara Kab Bentuk Gerakan Orang Tua Peduli Stunting: Edukasi Berkelanjutan Cegah Risiko

Poltekkes Kutai Kartanegara Kab Bentuk Gerakan Orang Tua Peduli Stunting: Edukasi Berkelanjutan Cegah Risiko

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Provinsi Kalimantan Timur, semakin gencar melawan stunting melalui inisiatif inovatif yang melibatkan orang tua sebagai agen utama pencegahan. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Kalimantan Timur, melalui cabang Kutai Kartanegara, berhasil membentuk "Gerakan Orang Tua Peduli Stunting" di Desa Bukit Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang. Program ini, yang digelar dari 19 Agustus hingga 8 September 2025 di Posyandu Hayati, menjadi bagian dari Pemberdayaan Mitra Desa yang bertujuan menurunkan prevalensi stunting secara sistematis melalui pendampingan dan edukasi keluarga. Inisiatif ini tidak hanya menyasar orang tua dan kader, tapi juga membangun kesadaran berkelanjutan untuk cegah risiko stunting yang masih tinggi di wilayah tersebut.


Gerakan ini lahir dari keprihatinan atas tingginya angka stunting di Kutai Kartanegara, yang mencapai 27,1 persen pada 2022 berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI)—angka tertinggi di Kalimantan Timur. Secara nasional, stunting memengaruhi 21,6 persen balita pada 2022, dengan target penurunan menjadi 14 persen pada 2024. Di Desa Bukit Raya, yang berada di bawah wilayah Puskesmas Teluk Dalam, angka stunting bahkan di atas rata-rata kabupaten, disebabkan ketidakstabilan program kesehatan balita akibat keterbatasan tenaga. Poltekkes Kutai Kartanegara, sebagai motor penggerak, memimpin program ini untuk mengatasi akar masalah seperti malnutrisi kronis, infeksi, pola asuh buruk, dan akses layanan kesehatan terbatas.

Tim Poltekkes yang terdiri dari Bdn. Ega Ersya Urnia, S.Tr.Keb., M.Kes; Bdn. Rosalin Ariefah Putri, M.Keb; dan Bdn. Hj. Rahmawati Wahyuni, M.Keb dari Jurusan Kebidanan, berkoordinasi dengan Direktur Poltekkes, Dr. Parellangi, dan Ketua Jurusan Kebidanan, Dr. Bdn. Nursari Abdul Syukur. Mereka mendampingi kader dan orang tua untuk membentuk gerakan ini, dengan fokus pendidikan berkelanjutan. Kegiatan mencakup konseling orang tua untuk tingkatkan kesadaran keluarga tentang stunting, serta layanan kesehatan rutin bagi balita. "Stunting berdampak pada gangguan pertumbuhan otak, kesulitan belajar, motorik rendah, risiko penyakit kronis, dan penurunan produktivitas," jelas tim Poltekkes, dikutip https://poltekkeskutaikartanegarakab.org. Penyebab langsung seperti kekurangan gizi dan infeksi, serta tidak langsung seperti higiene buruk, budaya, dan faktor sosioekonomi, menjadi target utama.

Peserta gerakan meliputi kader posyandu, orang tua, dan keluarga di Desa Bukit Raya, yang sebelumnya kekurangan konseling orang tua tentang stunting. Melalui pendampingan Poltekkes, program kesehatan balita kini lebih stabil, dengan penekanan pada 1.000 hari pertama kehidupan. Edukasi mencakup pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) bergizi, suplementasi zat besi, dan pemantauan pertumbuhan. "Dengan gerakan ini, kami cegah risiko stunting melalui edukasi berkelanjutan, sehingga anak-anak Bukit Raya tumbuh optimal," ujar salah satu kader.

Poltekkes Kutai Kartanegara, melalui program Pemberdayaan Mitra Desa, membuktikan peran vokasi kesehatan dalam pembangunan desa. Direktur Dr. Parellangi menekankan, "Kami tidak hanya latih, tapi dampingi implementasi. Gerakan Orang Tua Peduli Stunting ini model replikasi untuk desa lain di Kukar." Keberhasilan ini selaras dengan target nasional UNICEF (2021) yang mencatat 149,2 juta balita stunting global pada 2020, menuntut aksi lokal seperti ini.

Gerakan ini diharapkan turunkan stunting di Bukit Raya secara signifikan, membuka jalan untuk generasi unggul. Dengan pendampingan Poltekkes, orang tua bukan lagi pasif, tapi pelopor pencegahan—untuk Kutai Kartanegara sehat dan maju.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita