Frambusia, disebabkan oleh bakteri Treponema pertenue, termasuk dalam kategori Neglected Tropical Diseases (NTDs) yang menjadi perhatian khusus Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penyakit ini menular melalui kontak kulit ke kulit, terutama pada anak di bawah 15 tahun, dan ditandai dengan lesi kulit yang bisa berkembang menjadi luka berat hingga kecacatan tulang jika tidak diobati. Secara global, 15 negara masih endemis hingga 2023, tapi di Indonesia, prevalensi telah turun di bawah 1 per 10.000 penduduk berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI. Di Kalimantan Barat, termasuk Sambas, tidak ada kasus baru selama tiga tahun terakhir, memenuhi kriteria non-endemis. Strategi eradikasi mengikuti Permenkes Nomor 8 Tahun 2017, yang mencakup surveilans aktif, pemberian obat pencegahan massal (POPM) dengan azitromisin, dan survei serologi untuk deteksi antibodi.
Poltekkes Kemenkes Sambas memainkan peran strategis dalam mendukung komitmen ini. Sebagai mitra Dinkes, Poltekkes telah melibatkan 50 mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk survei lapangan di 15 desa prioritas seperti Tebas dan Pemangkat. Direktur Poltekkes Sambas, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menekankan bahwa lembaga ini siap jadi tulang punggung eradikasi. “Kami komitmen basmi frambusia melalui edukasi deteksi dini dan pelatihan kader desa. Mahasiswa kami turun langsung lakukan skrining kulit pada anak-anak, sekaligus edukasi PHBS untuk cegah penularan,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga menyumbang riset serologi sederhana di laboratorium kampus, memantau antibodi pada kelompok rentan.
Keberhasilan memerlukan komitmen bersama, seperti yang ditegaskan dr. Ganjar. “Diperlukan komitmen bersama dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat agar upaya ini benar-benar berhasil secara permanen.” Kolaborasi lintas sektor melibatkan Dinkes, Poltekkes, sekolah, dan tokoh adat Melayu Sambas untuk kampanye anti-stigma, karena frambusia sering dikaitkan dengan mitos yang menghambat pengobatan. Di Sambas, di mana populasi anak mencapai 40 persen, pencegahan frambusia berarti lindungi generasi muda dari kecacatan yang bisa hambat pendidikan dan produktivitas.
Dengan dukungan Poltekkes Sambas, eradikasi frambusia bukan mimpi, tapi target realistis. Penilaian 2025 diharapkan konfirmasi status bebas frambusia, menjadikan Sambas model nasional. Dr. Ganjar optimis: “Ini tonggak bersejarah bagi Kabupaten Sambas menuju daerah bebas frambusia.” Poltekkes Sambas, melalui pengabdiannya, membuktikan bahwa komitmen basmi penyakit tropis dimulai dari pendidikan dan aksi lapangan—untuk Sambas sehat dan lestari.
