Poltekkes Koja Soroti Sampah di Saluran Air: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Warga

Poltekkes Koja Soroti Sampah di Saluran Air: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan Warga

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kecamatan Koja, Jakarta Utara, menjadi sorotan tajam atas masalah sampah yang menumpuk di saluran air, mengubah lingkungan menjadi kumuh dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat. Kondisi ini, di mana saluran air dipenuhi sampah plastik, styrofoam, dan limbah rumah tangga, tidak hanya mengganggu estetika kota, tapi juga menciptakan ancaman tersembunyi seperti penyebaran penyakit menular. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Koja, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, aktif menyoroti isu tersebut melalui program edukasi dan pengabdian masyarakat. Direktur Poltekkes Koja, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menekankan bahwa sampah di saluran air adalah bom waktu bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan terhadap infeksi.


Artikel opini Muhammad Ilham di laman https://poltekkeskoja.org menggambarkan kondisi memprihatinkan di Koja, di mana air saluran berubah warna menjadi hitam pekat dengan bau tak sedap yang menusuk hidung. Sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana, sementara plastik menyebabkan polusi mikroplastik yang meresap ke air tanah. "Sampah di saluran air Koja: Ancaman tersembunyi bagi kesehatan warga Jakarta Utara," tulis Ilham, menyoroti bagaimana genangan air menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti, penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Hingga pertengahan 2024, DBD telah menyebabkan lebih dari 8.000 kasus di Jakarta, dengan Koja dan Cilincing sebagai wilayah paling terdampak. Dr. Lestari Rahmawati, ahli kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, memperingatkan, "Sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana, sementara plastik menyebabkan polusi mikroplastik pada air tanah. Dampaknya bisa terasa hingga puluhan tahun."

Poltekkes Kemenkes Koja merespons dengan program pengabdian masyarakat yang intensif. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Dr. Siti Nurhaliza menyoroti urgensi surveilans. “Sampah di saluran air adalah ancaman tersembunyi yang kami soroti melalui sosialisasi di 15 RW prioritas Koja. Mahasiswa kami dari Jurusan Kesehatan Lingkungan turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk edukasi 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, plus Menabur larvasida) dan demo pembersihan saluran,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining cepat DBD di kampus, mendeteksi 50 kasus positif sejak Juli 2025 untuk rujukan ke puskesmas.

Penyebab utama masalah ini adalah kebiasaan membuang sampah sembarangan, dengan 15-20% dari 7.800 ton sampah harian Jakarta berakhir di saluran air, menurut Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta (2024). Akibatnya, saluran tersumbat, banjir lokal saat hujan, dan penyakit kulit serta diare mewabah. Warga seperti Rudi (42 tahun) mengeluhkan, “Kalau hujan deras, air got meluap ke jalan bahkan masuk rumah. Baunya luar biasa, tapi kami terbiasa.” Dampaknya mencakup polusi udara dari gas metana dan kontaminasi air tanah, yang memengaruhi kesehatan jangka panjang.

Rekomendasi Poltekkes Koja mencakup pembersihan rutin saluran, pemasangan jaring penahan sampah (trash trap), dan edukasi lingkungan sejak dini di sekolah. “Kolaborasi pemerintah, swasta, dan komunitas hijau adalah kunci. Menjaga kebersihan bukan urusan pemerintah saja, tapi tanggung jawab setiap individu,” tegas Dr. Siti, menggemakan pesan Ilham. Poltekkes rencanakan workshop bulanan untuk 300 warga RW prioritas pada 2026, terintegrasi dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).Dengan sorotan Poltekkes Koja, sampah di saluran air bukan lagi ancaman tersembunyi, tapi peluang edukasi—untuk Jakarta Utara sehat dan lestari.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita