Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Jambi menunjukkan solidaritasnya dalam mendukung pelayanan kesehatan di daerah terpencil melalui penyerahan bantuan obat-obatan dan bahan medis habis pakai (BKHP) kepada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kerinci, Provinsi Jambi. Kegiatan ini, yang digelar pada Jumat, 21 November 2025, di Aula RSUD Kerinci, menjadi wujud nyata komitmen Poltekkes sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan untuk berkontribusi pada peningkatan akses kesehatan masyarakat di wilayah pedalaman. Bantuan ini tidak hanya melengkapi stok RSUD Kerinci yang sering mengalami kekurangan, tetapi juga memperkuat jaringan kerja sama antara institusi pendidikan dan fasilitas kesehatan daerah, sebagaimana diungkap dalam laporan dari laman https://poltekkeskerinci.org.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Direktur Poltekkes Kemenkes Jambi, Dr. Tri Wulan Handayani, M.Kes, kepada Direktur RSUD Kerinci, dr. H. Zainal Abidin, M.Kes. Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat terkait, termasuk perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jambi dan tokoh masyarakat setempat. Bantuan yang diserahkan mencakup berbagai jenis obat esensial seperti antibiotik, analgesik, dan suplemen gizi, serta BKHP berupa alat pelindung diri (APD), masker, sarung tangan, dan perban steril. Meskipun detail kuantitas tidak dirinci secara spesifik, pihak Poltekkes menekankan bahwa paket bantuan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan mendesak RSUD Kerinci selama tiga bulan ke depan, terutama untuk penanganan kasus umum seperti infeksi pernapasan, demam berdarah, dan luka akibat kecelakaan kerja di sektor perkebunan yang dominan di Kerinci.
Dr. Tri Wulan Handayani menyampaikan bahwa inisiatif ini lahir dari pemantauan Poltekkes terhadap tantangan kesehatan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) seperti Kerinci. "Sebagai bagian dari Program Pengabdian Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Jambi berkomitmen untuk tidak hanya mencetak tenaga kesehatan kompeten, tetapi juga mendukung infrastruktur pelayanan dasar. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban RSUD Kerinci yang sering kali kekurangan stok akibat keterbatasan logistik," ujarnya, seperti dikutip dari Gaperta.id. Ia juga menambahkan bahwa Poltekkes telah melibatkan mahasiswa Program Studi Farmasi dan Manajemen Informasi Kesehatan dalam proses pengadaan dan distribusi bantuan, memberikan pengalaman praktik langsung yang selaras dengan kurikulum vokasi.
Sementara itu, dr. H. Zainal Abidin menyambut baik bantuan tersebut dengan penuh harap. "RSUD Kerinci sangat membutuhkan dukungan seperti ini, terutama di tengah peningkatan pasien pasca-pandemi. Dengan bantuan dari Poltekkes, kami bisa lebih optimal dalam memberikan pelayanan gratis bagi masyarakat miskin dan peserta BPJS Kesehatan. Ini akan mengurangi angka penolakan pasien akibat ketiadaan obat," katanya. Menurut data Dinas Kesehatan Jambi, RSUD Kerinci melayani lebih dari 500 pasien rawat inap per bulan, dengan 70% di antaranya berasal dari kalangan petani dan buruh perkebunan yang rentan terhadap penyakit tropis. Kekurangan obat sering kali menjadi hambatan utama, sehingga bantuan ini dianggap sebagai "penyelamat" sementara sambil menunggu alokasi anggaran provinsi yang lebih besar.
Kegiatan penyerahan ini juga menjadi ajang diskusi tentang kolaborasi jangka panjang. Poltekkes Kemenkes Jambi berencana mengirimkan mahasiswa untuk Praktik Kerja Lapangan (PKL) di RSUD Kerinci mulai Januari 2026, fokus pada pengelolaan rantai pasok obat dan pelatihan tenaga kesehatan lokal. "Kami ingin membangun ekosistem kesehatan yang berkelanjutan, di mana pendidikan, pelayanan, dan masyarakat saling mendukung," tambah Dr. Handayani. Inisiatif ini selaras dengan visi Kementerian Kesehatan untuk mencapai Universal Health Coverage (UHC) 95% di seluruh Indonesia pada 2026, di mana daerah seperti Kerinci menjadi prioritas karena indeks pembangunan kesehatannya masih di bawah rata-rata nasional.
Dampak bantuan ini langsung terasa bagi masyarakat Kerinci. Seorang perawat di RSUD, Ns. Rina Sari, berbagi cerita bahwa stok obat sebelumnya hanya bertahan dua minggu, memaksa pasien dirujuk ke kota tetangga. "Sekarang, kami bisa tangani lebih banyak kasus di tempat, menghemat biaya dan waktu bagi pasien," ujarnya. Tokoh masyarakat, H. Mukhlis, juga memuji upaya Poltekkes sebagai teladan kepedulian lintas sektor. "Ini bukti bahwa pendidikan kesehatan bukan hanya di kelas, tapi nyata di lapangan," katanya.
Melalui penyerahan bantuan ini, Poltekkes Kemenkes Jambi tidak hanya memberikan solusi darurat, tetapi juga membangun fondasi untuk kesehatan berkelanjutan di Kerinci. Diharapkan, kerja sama ini menjadi model bagi daerah lain di Jambi, memastikan bahwa setiap warga, tak peduli seberapa terpencil, mendapatkan hak kesehatan yang layak. Dengan semangat pengabdian, Poltekkes terus membuktikan perannya sebagai pilar utama transformasi kesehatan nasional.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Direktur Poltekkes Kemenkes Jambi, Dr. Tri Wulan Handayani, M.Kes, kepada Direktur RSUD Kerinci, dr. H. Zainal Abidin, M.Kes. Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat terkait, termasuk perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jambi dan tokoh masyarakat setempat. Bantuan yang diserahkan mencakup berbagai jenis obat esensial seperti antibiotik, analgesik, dan suplemen gizi, serta BKHP berupa alat pelindung diri (APD), masker, sarung tangan, dan perban steril. Meskipun detail kuantitas tidak dirinci secara spesifik, pihak Poltekkes menekankan bahwa paket bantuan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan mendesak RSUD Kerinci selama tiga bulan ke depan, terutama untuk penanganan kasus umum seperti infeksi pernapasan, demam berdarah, dan luka akibat kecelakaan kerja di sektor perkebunan yang dominan di Kerinci.
Dr. Tri Wulan Handayani menyampaikan bahwa inisiatif ini lahir dari pemantauan Poltekkes terhadap tantangan kesehatan di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) seperti Kerinci. "Sebagai bagian dari Program Pengabdian Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Jambi berkomitmen untuk tidak hanya mencetak tenaga kesehatan kompeten, tetapi juga mendukung infrastruktur pelayanan dasar. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban RSUD Kerinci yang sering kali kekurangan stok akibat keterbatasan logistik," ujarnya, seperti dikutip dari Gaperta.id. Ia juga menambahkan bahwa Poltekkes telah melibatkan mahasiswa Program Studi Farmasi dan Manajemen Informasi Kesehatan dalam proses pengadaan dan distribusi bantuan, memberikan pengalaman praktik langsung yang selaras dengan kurikulum vokasi.
Sementara itu, dr. H. Zainal Abidin menyambut baik bantuan tersebut dengan penuh harap. "RSUD Kerinci sangat membutuhkan dukungan seperti ini, terutama di tengah peningkatan pasien pasca-pandemi. Dengan bantuan dari Poltekkes, kami bisa lebih optimal dalam memberikan pelayanan gratis bagi masyarakat miskin dan peserta BPJS Kesehatan. Ini akan mengurangi angka penolakan pasien akibat ketiadaan obat," katanya. Menurut data Dinas Kesehatan Jambi, RSUD Kerinci melayani lebih dari 500 pasien rawat inap per bulan, dengan 70% di antaranya berasal dari kalangan petani dan buruh perkebunan yang rentan terhadap penyakit tropis. Kekurangan obat sering kali menjadi hambatan utama, sehingga bantuan ini dianggap sebagai "penyelamat" sementara sambil menunggu alokasi anggaran provinsi yang lebih besar.
Kegiatan penyerahan ini juga menjadi ajang diskusi tentang kolaborasi jangka panjang. Poltekkes Kemenkes Jambi berencana mengirimkan mahasiswa untuk Praktik Kerja Lapangan (PKL) di RSUD Kerinci mulai Januari 2026, fokus pada pengelolaan rantai pasok obat dan pelatihan tenaga kesehatan lokal. "Kami ingin membangun ekosistem kesehatan yang berkelanjutan, di mana pendidikan, pelayanan, dan masyarakat saling mendukung," tambah Dr. Handayani. Inisiatif ini selaras dengan visi Kementerian Kesehatan untuk mencapai Universal Health Coverage (UHC) 95% di seluruh Indonesia pada 2026, di mana daerah seperti Kerinci menjadi prioritas karena indeks pembangunan kesehatannya masih di bawah rata-rata nasional.
Dampak bantuan ini langsung terasa bagi masyarakat Kerinci. Seorang perawat di RSUD, Ns. Rina Sari, berbagi cerita bahwa stok obat sebelumnya hanya bertahan dua minggu, memaksa pasien dirujuk ke kota tetangga. "Sekarang, kami bisa tangani lebih banyak kasus di tempat, menghemat biaya dan waktu bagi pasien," ujarnya. Tokoh masyarakat, H. Mukhlis, juga memuji upaya Poltekkes sebagai teladan kepedulian lintas sektor. "Ini bukti bahwa pendidikan kesehatan bukan hanya di kelas, tapi nyata di lapangan," katanya.
Melalui penyerahan bantuan ini, Poltekkes Kemenkes Jambi tidak hanya memberikan solusi darurat, tetapi juga membangun fondasi untuk kesehatan berkelanjutan di Kerinci. Diharapkan, kerja sama ini menjadi model bagi daerah lain di Jambi, memastikan bahwa setiap warga, tak peduli seberapa terpencil, mendapatkan hak kesehatan yang layak. Dengan semangat pengabdian, Poltekkes terus membuktikan perannya sebagai pilar utama transformasi kesehatan nasional.
