Poltekkes Kemenkes Jambi Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Cegah Stunting di Muaro Jambi

Poltekkes Kemenkes Jambi Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Cegah Stunting di Muaro Jambi

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, tengah menghadapi tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) akibat maraknya kasus stunting pada anak balita. Kondisi ini tidak hanya mengancam kualitas generasi mendatang, tetapi juga menghambat kemajuan ekonomi dan sosial daerah. Di tengah upaya pemerintah daerah untuk menekan angka stunting, Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Jambi muncul sebagai mitra strategis dengan mendorong kolaborasi lintas sektor. Melalui program pengabdian masyarakat dan pelatihan tenaga kesehatan, Poltekkes berkomitmen memperkuat pencegahan stunting melalui edukasi, inovasi gizi, dan peningkatan layanan kesehatan dasar, sejalan dengan seruan Wakil Bupati Muaro Jambi, Junaidi Mahir.


Pernyataan Wakil Bupati Junaidi Mahir yang disampaikan dalam keterangan tertulis pada 29 November 2025, menjadi pemicu utama inisiatif Poltekkes. Dalam Rapat Koordinasi Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Muaro Jambi pada 28 November 2025, Mahir menekankan betapa krusialnya kolaborasi untuk mengatasi stunting. "Stunting ini pencegahannya itu sangat penting, maka kolaborasi semua pihak itu sangat dibutuhkan. Stunting ini taruhannya terlalu besar diabaikan, karena dampaknya sangat besar," ujarnya, sebagaimana dikutip dari https://poltekkesmuarojambi.org. Mahir juga mengajak pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk terlibat aktif, termasuk melalui program Gerakan Orang Tua Asuh (GENTING) dan inisiatif "Stunting Berbakti" yang menyediakan susu serta telur selama enam bulan ke depan. "Kami mengajak semua pihak untuk terlibat, baik melalui edukasi, pemenuhan gizi, hingga memastikan layanan kesehatan bagi ibu hamil dan balita berjalan optimal," tambahnya.

Poltekkes Kemenkes Jambi, sebagai institusi vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, melihat peluang emas dalam seruan ini. Direktur Poltekkes Kemenkes Jambi, Dr. Tri Wulan Handayani, M.Kes, menyatakan bahwa kolaborasi ini selaras dengan misi Poltekkes untuk mencetak tenaga kesehatan yang kompeten sekaligus mendukung program nasional penurunan stunting menjadi di bawah 14% pada 2024. "Kami siap terjun langsung ke Muaro Jambi dengan melibatkan mahasiswa Program Studi Gizi dan Kesehatan Masyarakat untuk sosialisasi pencegahan stunting. Edukasi dini tentang pola makan bergizi, pemeriksaan antropometri, dan pendampingan keluarga berisiko menjadi fokus utama," jelas Dr. Handayani. Poltekkes berencana menggelar workshop pelatihan untuk kader posyandu dan bidan desa mulai Januari 2026, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Muaro Jambi. Kegiatan ini akan mencakup simulasi praktik pengukuran tinggi badan anak, deteksi dini stunting, dan penyuluhan tentang makanan lokal kaya nutrisi seperti ikan sungai dan sayur daun yang melimpah di wilayah tersebut.
Stunting, yang ditandai dengan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis, berdampak jangka panjang seperti penurunan kecerdasan, produktivitas rendah, dan risiko penyakit degeneratif di usia dewasa. Di Muaro Jambi, meski data spesifik belum dirilis, prevalensi nasional mencapai 21,6% pada 2022 menurut Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), dengan daerah pedesaan seperti Muaro Jambi berpotensi lebih tinggi akibat keterbatasan akses pangan dan sanitasi. Poltekkes menyoroti peran inovasi seperti aplikasi mobile untuk monitoring gizi balita yang dikembangkan mahasiswa, serta kampanye "Muaro Jambi Bebas Stunting" yang mengintegrasikan GENTING dengan pelatihan orang tua asuh. "Melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL), mahasiswa kami akan mendampingi 50 desa prioritas, memastikan setiap balita mendapatkan suplementasi vitamin A dan zat besi secara rutin," tambah Dr. Handayani.

Kolaborasi ini juga melibatkan sektor swasta dan LSM, seperti perusahaan perkebunan sawit lokal yang diminta menyumbang program pemberian makan siang bergizi di posyandu. Mahir optimistis bahwa dengan komitmen bersama, angka stunting bisa turun drastis di masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati (BBS-Junaidi). "Stunting Berbakti harus kita upayakan juga, yaitu memberikan susu dan telur, selama enam bulan ke depan. Kita harus pastikan dan juga harus kuatkan komitmen kita bersama agar penting mencegah dan menurunkan angka stunting," tegasnya.

Upaya Poltekkes ini tidak hanya reaktif, tapi proaktif dalam membangun ketahanan pangan lokal. Melalui penelitian mahasiswa, mereka mengidentifikasi potensi tanaman ubi kayu dan pisang sebagai sumber karbohidrat murah untuk mencegah malnutrisi. Selain itu, Poltekkes akan mendukung peningkatan kualitas layanan posyandu dengan pelatihan digitalisasi data gizi, memudahkan pemantauan real-time. "Kolaborasi ini akan menciptakan ekosistem kesehatan yang holistik, di mana setiap elemen masyarakat berperan," pungkas Dr. Handayani.

Dengan dorongan kuat dari Poltekkes Kemenkes Jambi, pencegahan stunting di Muaro Jambi diharapkan menjadi model sukses nasional. Generasi emas yang sehat dan cerdas bukan lagi mimpi, tapi kenyataan melalui tangan bersatu. Masyarakat Muaro Jambi diajak untuk segera bertindak: cuci tangan, makan bergizi, dan imunisasi lengkap. Bersama, kita wujudkan Muaro Jambi bebas stunting!
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita