Poltekkes Kab Nunukan Menyoroti Lonjakan Gangguan Jiwa: Tekanan Ekonomi dan Stigma Jadi Penyebab Utama

Poltekkes Kab Nunukan Menyoroti Lonjakan Gangguan Jiwa: Tekanan Ekonomi dan Stigma Jadi Penyebab Utama

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, yang berbatasan langsung dengan Malaysia, mencatat peningkatan signifikan kasus gangguan kesehatan jiwa dalam beberapa tahun terakhir. Data Dinas Kesehatan Nunukan menunjukkan angka gangguan jiwa meningkat dari 120 kasus pada 2022 menjadi 285 kasus pada 2025, dengan mayoritas penderita berusia produktif 20–45 tahun. Fenomena ini menjadi sorotan tajam dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Nunukan, yang menyerukan penanganan serius melalui pendekatan komunitas dan edukasi anti-stigma. Penyebab utama, menurut analisis Poltekkes, adalah tekanan ekonomi akibat biaya hidup tinggi di daerah perbatasan, pengangguran, serta minimnya akses layanan kesehatan jiwa.


dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, Direktur Poltekkes Nunukan, menyatakan bahwa lonjakan ini bukan hanya masalah medis, tapi juga sosial-budaya. “Nunukan sebagai pintu gerbang perdagangan dengan Malaysia punya biaya hidup tinggi. Banyak warga bekerja serabutan atau migran, ketika ekonomi tertekan, stres dan depresi meningkat. Ditambah stigma kuat, penderita malu berobat sehingga kasus berat seperti skizofrenia dan bunuh diri naik,” ujar dr. Siti, seperti dikutip dari https://poltekkeskabnunukan.org. Ia menambahkan bahwa dari 285 kasus, 60 persen adalah depresi berat, 25 persen skizofrenia, dan sisanya gangguan cemas akibat trauma ekonomi atau keluarga terpisah karena bekerja di Malaysia.

Poltekkes Nunukan langsung bertindak dengan meluncurkan program “Nunukan Jiwa Sehat” sejak Januari 2025. Program ini melibatkan 150 mahasiswa Jurusan Keperawatan Jiwa dan Kesehatan Masyarakat melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) terpadu. Mereka turun ke 20 desa prioritas di Kecamatan Nunukan, Sebatik, dan Krayan untuk:

  • Skrining kesehatan jiwa gratis menggunakan skala SRQ-20 WHO
  • Edukasi anti-stigma di masjid dan pasar
  • Konseling kelompok untuk penderita dan keluarga

“Kami ajak warga pahami bahwa gangguan jiwa sama seperti diabetes atau hipertensi—bisa diobati dengan obat dan terapi. Stigma yang bikin orang malu berobat justru memperburuk,” tegas Ns. Rina Sari, M.Kep, koordinator program Poltekkes. Hasil awal menunjukkan 400 warga ikut skrining, dengan 120 kasus baru terdeteksi dini dan langsung dirujuk ke Puskesmas untuk ARV jiwa gratis.

Kolaborasi Poltekkes dengan Dinkes Nunukan juga melibatkan pelatihan 200 kader desa menjadi “Pendengar Setia” untuk dukungan emosional. “Di Nunukan, akses psikolog hanya di kota. Kader ini jembatan pertama sebelum rujuk ke RSUD,” tambah dr. Siti. Program ini terintegrasi dengan JKN, sehingga obat antidepresan dan antipsikotik gratis bagi penderita terdaftar.

Dengan sorotan tajam Poltekkes Nunukan, angka gangguan jiwa diharapkan turun 30 persen pada 2026. Edukasi, deteksi dini, dan dukungan komunitas adalah kunci—untuk Nunukan yang sehat jiwa raga.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita