Kepala Dinkes Bontang, dr. Bachtiar Mabe, menekankan bahwa Gerakan Posyandu Aktif bertujuan memperkuat kapasitas kader melalui digitalisasi administrasi dan pelaporan. “Ke depan, kami akan memperkuat kapasitas kader Posyandu, termasuk memanfaatkan teknologi dalam administrasi dan pelaporan supaya layanan menjadi lebih efisien dan transparan,” ujar dr. Bachtiar, seperti dikutip dari https://poltekkesbontang.org. Ia menambahkan bahwa program ini selaras dengan target nasional Kementerian Kesehatan untuk menurunkan prevalensi stunting di bawah 14 persen pada 2024, di mana Bontang masih mencatat angka 18,5 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023. Dengan Posyandu aktif, layanan antenatal care (ANC), imunisasi, dan pemantauan gizi balita diharapkan lebih optimal, terutama di kelurahan rawan seperti Kanaan yang memiliki 1.200 balita.
Poltekkes Kemenkes Bontang memainkan peran krusial sebagai mitra pendidikan dan pengabdian. Sebagai politeknik vokasi kesehatan, Poltekkes menyumbang 50 mahasiswa Jurusan Kebidanan dan Gizi melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk mendampingi kader dalam pelatihan. Direktur Poltekkes Bontang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa kolaborasi ini selaras dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Mahasiswa kami turun langsung edukasi kader tentang antropometri balita, pemberian MP-ASI bergizi, dan digitalisasi data Posyandu menggunakan aplikasi e-Posyandu. Ini bukan hanya pelatihan, tapi pengabdian untuk tekan stunting yang berdampak pada perkembangan kognitif anak,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga menyediakan laboratorium untuk uji sampel gizi, memastikan rekomendasi berbasis bukti.
Ketua Tim Pembina Posyandu dan TP PKK, Nur Kalbi Agus Haris, mengapresiasi keterlibatan masyarakat dan mitra perusahaan seperti Pertamina. “Gerakan ini optimalisasi fungsi Posyandu dengan dukungan semua pihak. Kader kini lebih percaya diri tangani kasus gizi buruk, dan digitalisasi bikin pelaporan cepat ke Dinkes,” katanya. Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, yang membuka acara, menekankan kolaborasi lintas sektor. “Saya sangat bangga dengan semangat para kader dan masyarakat. Kita harus terus berkolaborasi untuk memperkuat layanan kesehatan dasar dan menurunkan angka stunting di Bontang. Semoga Gerakan Posyandu Aktif ini mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dan kualitas layanan hingga tingkat kelurahan dan RT,” ujarnya.
Dampak program ini langsung terasa: 80 persen kader pelatihan melaporkan peningkatan kemampuan screening stunting, dan 200 balita di Kanaan sudah terpantau gizi sejak peluncuran. Poltekkes Bontang berencana lanjutkan dengan workshop bulanan pada 2026, terintegrasi dengan JKN untuk rujukan cepat. Di Bontang, di mana urbanisasi cepat sering abaikan kesehatan dasar, Gerakan Posyandu Aktif menjadi model sukses. Dengan dukungan Poltekkes, Posyandu bukan lagi sekadar pos, tapi pusat transformasi kesehatan ibu dan anak—untuk generasi Bontang yang sehat dan cerdas.
