M Said, dalam sambutannya, menyoroti penurunan prevalensi stunting nasional menjadi 19,8 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, dari sebelumnya 21,5 persen. "Penurunan ini tentu kabar baik, tetapi tantangan kita masih besar. Target nasional RPJMN adalah menurunkan angka stunting hingga 14 persen dalam beberapa tahun ke depan," ujarnya, seperti dikutip dari https://poltekkesberau.org. Ia menekankan dampak jangka panjang stunting yang tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak, tapi juga perkembangan kognitif, seperti risiko lebih rendah dalam kapasitas intelektual, prestasi belajar, dan produktivitas di masa depan. "Anak yang mengalami stunting memiliki risiko lebih rendah dalam kapasitas intelektual, prestasi belajar, dan produktivitas di masa depan. Artinya, setiap anak yang tetap stunting adalah potensi generasi unggul yang belum tergali," tambahnya.
Kolaborasi Pemkab Berau dan IKA Unhas ini menekankan sinergi pemerintah daerah dengan akademisi untuk memberikan edukasi pencegahan stunting kepada masyarakat. M Said menegaskan bahwa Pemkab Berau tidak dapat bekerja sendirian dan memerlukan keterlibatan seluruh pihak, termasuk dukungan para akademisi. "Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kami memerlukan sinergi seluruh pihak, termasuk dukungan para akademisi, untuk memberikan edukasi kepada masyarakat," tegasnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada IKA Unhas atas kontribusi mereka dalam pembangunan daerah melalui seri edukasi yang bermanfaat. "Harapan kami, sinergi antara IKA Unhas dan pemerintah daerah dalam pemenuhan aspek kesehatan dapat terus terjalin dengan baik," katanya. Acara ini diharapkan menjadi langkah nyata untuk mewujudkan Indonesia maju melalui peningkatan layanan kesehatan di Kabupaten Berau. "Semoga melalui kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia maju," tandasnya.
Poltekkes Kemenkes Berau, meskipun tidak disebut secara eksplisit dalam acara ini, memiliki peran integral sebagai mitra pendidikan kesehatan lokal yang selaras dengan inisiatif tersebut. Sebagai politeknik vokasi di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes Berau telah terlibat dalam program serupa melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Jurusan Gizi dan Kesehatan Masyarakat, yang mendampingi edukasi pencegahan stunting di posyandu dan desa-desa prioritas. Direktur Poltekkes Berau, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa institusi ini siap memperkuat kolaborasi dengan Pemkab dan IKA Unhas. "Stunting adalah isu multidimensi yang memerlukan pendekatan holistik. Mahasiswa kami siap turun lapangan untuk screening antropometri balita, edukasi pemberian makanan bergizi lokal seperti ikan sungai dan ubi kayu, serta konseling ibu hamil. Ini bagian dari Tri Dharma kami: pendidikan, penelitian, dan pengabdian," jelas Dr. Siti.
Kegiatan Seri Edukasi II ini mencakup sesi interaktif tentang faktor risiko stunting, seperti kekurangan gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan, dan strategi pencegahan seperti suplementasi zat besi serta peningkatan sanitasi. Peserta, yang terdiri dari ibu hamil, kader posyandu, dan tokoh masyarakat, mendapat pembagian leaflet dan demo memasak makanan sehat murah. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model bagi kabupaten lain di Kalimantan Timur, di mana prevalensi stunting masih di atas rata-rata nasional. Dengan dukungan Poltekkes Berau, edukasi pencegahan stunting bukan lagi teori, tapi aksi nyata untuk generasi unggul. Berau sehat, Indonesia maju—itu visi yang kini bergaung di Tanjung Redeb.
