Filariasis limfatik, atau kaki gajah, disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Culex atau Mansonia. Penyakit ini dapat menyebabkan pembengkakan ekstrem pada kaki, lengan, atau alat kelamin, serta disabilitas permanen jika tidak diobati. Di Tana Tidung, yang awalnya hanya tiga daerah endemis, deteksi tambahan dua kasus pendatang dari 806 sampel darah mendorong Dinkes untuk memperluas cakupan POPM. Kepala Dinkes Tana Tidung, Mohamad Sarif, menjelaskan, “Awalnya hanya ditemukan tiga kasus dari warga lokal, tapi setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ada tambahan dua orang dari luar daerah yang juga positif filariasis. Jadi total lima kasus, dan itu jadi dasar kenapa program POPM dilakukan,” seperti dikutip dari https://poltekkestanatidung.org. Kelima pasien telah selesai terapi 12 hari dan tidak lagi menular, meskipun pemeriksaan ulang dijadwalkan pada 2026 atau 2027 sesuai pedoman nasional.
Poltekkes Kemenkes Tana Tidung memainkan peran krusial dalam deteksi dan pencegahan ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes melibatkan 50 mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Teknologi Laboratorium Medis melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk mendampingi skrining sampel darah. Direktur Poltekkes Tana Tidung, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyoroti kontribusi lembaga ini. “Deteksi lima kasus ini hasil surveilans aktif yang kami dukung melalui pelatihan kader desa. Mahasiswa kami ajar teknik pengambilan sampel darah malam hari—saat cacing filaria aktif—dan edukasi pencegahan seperti gunakan kelambu dan obati gigitan nyamuk. Filariasis bisa dicegah 100 persen dengan POPM, tapi butuh kesadaran masyarakat,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan laboratorium portabel untuk uji mikroskopik darah, mempercepat diagnosis di tingkat desa.
Program POPM menargetkan 17.000 jiwa usia 2–70 tahun, dengan pemberian obat sekali setahun selama dua tahun berturut-turut untuk memutus siklus penularan. Obat pencegahan, seperti diethylcarbamazine (DEC) dikombinasi ivermectin, relatif aman dengan efek samping ringan seperti kantuk. Sebelum distribusi, tim Dinkes dan Poltekkes lakukan sosialisasi di setiap kecamatan dan desa, menjelaskan manfaat, cara minum obat (3–4 dosis), dan skrining kondisi kesehatan. Hingga pertengahan Oktober 2025, 65 persen target telah tercapai, dengan penyelesaian dijadwalkan November. “Sebelum obat dibagikan, masyarakat diberikan sosialisasi lebih dulu. Kita jelaskan apa manfaatnya, bagaimana cara minum obatnya, dan dilakukan skrining untuk memastikan kondisi mereka,” tambah Mohamad Sarif.
Keberhasilan deteksi dan POPM ini selaras dengan target nasional eliminasi filariasis pada 2030. Di Tana Tidung, di mana 40 persen penduduk bergantung pada perikanan sungai, pencegahan filariasis krusial untuk kurangi disabilitas ekonomi. Poltekkes Tana Tidung berencana perluas pelatihan 200 kader pada 2026, terintegrasi dengan surveilans nyamuk. Dengan deteksi dini dan POPM, Tana Tidung bukan lagi zona endemis, tapi model pencegahan nasional—untuk masyarakat sehat dan produktif.
