Pelatihan ini diikuti oleh 500 relawan dapur SPPG, yang bertanggung jawab atas pengolahan dan distribusi makanan bergizi untuk siswa SD dan SMP se-Kabupaten Purwakarta. Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein (Om Zein), membuka acara dengan menekankan pergeseran tanggung jawab dari memasak pribadi ke pelayanan publik. "Dulu memasak untuk diri sendiri, sekarang untuk banyak orang. Maka, harus betul-betul higienis. Penjamah makanan harus sehat, teliti, dan mengolah makanan dengan cara yang bersih," ujar Om Zein, seperti dikutip dari https://poltekkespurwakarta.org. Ia menambahkan bahwa dengan SDM yang siap dan memahami standar kesehatan pangan, manfaat MBG akan semakin besar dirasakan masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi emas.
Kepala Dinas Kesehatan Purwakarta, Asep Saepudin, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah awal untuk menjaga higienitas dari hulu ke hilir, mulai dari pengolahan hingga distribusi. "Relawan harus memahami standar kebersihan agar program MBG berjalan maksimal. Jika higienitas terjaga, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh siswa," katanya. Materi pelatihan mencakup prinsip higienitas pangan, pengolahan makanan aman, pencegahan kontaminasi bakteri seperti Salmonella, dan standar penyimpanan untuk menjaga nutrisi. Relawan diajari teknik sederhana seperti cuci tangan pakai sabun, pemisahan bahan mentah dan matang, serta pengukuran suhu memasak minimal 70°C untuk basmi patogen.
Partisipasi Poltekkes Kemenkes Purwakarta menjadi sorotan utama dalam kesuksesan pelatihan ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes menyumbang 20 mahasiswa dan 5 dosen dari Program Studi Gizi dan Kesehatan Masyarakat sebagai narasumber dan fasilitator. Direktur Poltekkes Purwakarta, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa keterlibatan ini selaras dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. "Mahasiswa kami tidak hanya ajar teori, tapi praktik langsung: demo pengolahan makanan bergizi seperti nasi tim ayam dengan sayur yang aman dan higienis. Di Purwakarta, dengan 1,2 juta penduduk dan 40 persen anak sekolah, MBG krusial untuk cegah stunting. Pelatihan ini bagian dari Praktik Kerja Lapangan (PKL) kami, sekaligus pengabdian untuk tingkatkan kualitas SDM relawan," jelas Dr. Siti.
Pelatihan berlangsung seharian, dengan sesi interaktif seperti simulasi pengolahan pangan dan diskusi kasus kontaminasi nyata. Relawan, yang mayoritas ibu-ibu PKK dan kader posyandu, antusias menerima materi. "Sebelum ini, saya ragu olah makanan untuk ratusan anak. Sekarang paham cara jaga kebersihan agar tak ada keracunan," ujar salah seorang relawan dari SPPG Cisitu. Hasil awal menunjukkan 90 persen relawan berkomitmen terapkan SOP higienitas, dengan target distribusi MBG ke 50.000 siswa tanpa insiden keamanan pangan.
Ke depan, Poltekkes Purwakarta berencana perluas pelatihan ke 10 kecamatan lain pada 2026, terintegrasi dengan edukasi gizi untuk cegah obesitas anak. Dengan partisipasi Poltekkes, MBG bukan hanya program, tapi gerakan sehat nasional—untuk Purwakarta bebas stunting dan anak-anak bergizi optimal.
