Kepala Dinkes Landak, dr. Yulia Herawati, menyampaikan bahwa temuan ini harus segera ditindaklanjuti oleh orang tua. “Kami temukan banyak kasus anemia pada remaja putri karena kurang zat besi, serta gangguan mata akibat penggunaan gadget berlebih. Orang tua diminta segera konsultasi ke puskesmas terdekat untuk penanganan lanjutan,” ujar dr. Yulia. Dari 3.500 siswa yang diperiksa, sekitar 18% mengalami anemia ringan hingga sedang, 12% butuh kacamata, dan 25% memiliki masalah gigi yang memerlukan perawatan segera.
Poltekkes Kemenkes Landak, di bawah kepemimpinan Direktur Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menjadi motor utama kegiatan ini. Lebih dari 250 mahasiswa diterjunkan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) terpadu untuk melakukan pemeriksaan hemoglobin, visus mata, tinggi-berat badan, serta pemeriksaan gigi dan mulut. “Ini bukan hanya praktikum bagi mahasiswa, tapi juga pengabdian nyata. Kami ingin anak-anak Landak belajar dalam kondisi sehat,” kata Dr. Siti. Mahasiswa juga memberikan edukasi langsung di sekolah-sekolah: cara mencuci tangan, menyikat gigi yang benar, serta pentingnya makan makanan bergizi seperti sayur dan ikan sungai lokal.
Kegiatan ini difokuskan pada sekolah di wilayah terpencil seperti Ngabang, Menjalin, dan Air Besar, di mana akses kesehatan masih terbatas. Di SDN 05 Ngabang, misalnya, 60 dari 250 siswa ditemukan anemia dan langsung diberi tablet tambah darah gratis. “Anak-anak sering pusing saat belajar karena anemia. Setelah cek Poltekkes, sekarang kami tahu penyebabnya,” ujar Kepsek SDN 05 Ngabang, Bapak Yohanes.
Poltekkes Landak juga meluncurkan program tindak lanjut:
- Posko Kesehatan Sekolah di 10 sekolah pilot untuk monitoring bulanan.
- Distribusi kacamata gratis bagi siswa miskin yang butuh koreksi penglihatan.
- Pelatihan guru UKS agar bisa deteksi dini masalah kesehatan siswa.
Dr. Siti Nurhaliza menegaskan bahwa temuan ini adalah alarm bagi semua pihak. “Anemia dan gangguan mata akan menghambat prestasi belajar. Jika tidak ditangani sekarang, dampaknya jangka panjang bagi generasi Landak,” tegasnya. Ia juga mengimbau orang tua untuk memanfaatkan layanan puskesmas gratis melalui BPJS Kesehatan.
Dinkes Landak berencana memperluas program ini ke 100 sekolah pada 2026, dengan Poltekkes sebagai mitra tetap. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kesehatan pelajar bukan tanggung jawab sekolah semata, tapi kolaborasi semua pihak—terutama orang tua dan tenaga kesehatan. Dengan langkah konkret dari Poltekkes Kemenkes Landak, harapan anak-anak Landak untuk belajar dengan sehat dan berprestasi semakin terang. Mari bersama wujudkan generasi emas Landak yang sehat jiwa raga.
