Evaluasi digelar di Aula Dinkes Kuningan, melibatkan tim dari Bidang Gizi dan Kesehatan Ibu-Anak, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, dan mitra swasta seperti PT Indofood. Kepala Dinkes Kuningan, dr. Hj. Rina Wijayanti, M.Kes, menekankan bahwa tujuan utama adalah mengidentifikasi kelemahan distribusi makanan bergizi di sekolah dasar dan menengah, yang menargetkan 50.000 siswa se-Kuningan. “Program MBG bertujuan memenuhi gizi harian anak sekolah dengan menu seimbang seperti nasi, lauk protein, sayur, dan buah, tapi tantangan seperti keterlambatan pengiriman dan variasi menu lokal perlu diatasi,” ujar dr. Rina, seperti dikutip dari https://poltekkeskuningan.org. Temuan awal menunjukkan bahwa 85 persen siswa menerima MBG secara rutin, tapi 15 persen masih mengalami kendala logistik di kecamatan terpencil seperti Cisaga dan Pasawahan. Manfaatnya jelas: penurunan berat badan kurang 12 persen di kalangan siswa SD sejak program diluncurkan Januari 2025.
Poltekkes Kemenkes Kuningan memainkan peran strategis dalam evaluasi ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes menyumbang 50 mahasiswa Jurusan Gizi dan Kesehatan Masyarakat melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk survei antropometri siswa dan analisis nutrisi menu MBG. Direktur Poltekkes Kuningan, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa lembaga ini bangga berkontribusi. “Evaluasi MBG ini selaras dengan misi kami. Mahasiswa kami validasi data gizi di 20 sekolah, temukan bahwa menu berbasis ikan patin lokal efektif tingkatkan asupan protein 25 persen, tapi perlu variasi untuk cegah kebosanan. Kami rekomendasikan integrasi MMS (Multi Micronutrient Supplement) untuk ibu hamil, agar stunting turun holistik,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan lab gizi untuk uji kandungan menu MBG, memastikan memenuhi standar 2.100 kalori harian dengan 50 persen karbohidrat, 20 persen protein, dan 30 persen lemak.
Rekomendasi evaluasi mencakup perbaikan logistik dengan mobil pengantar khusus untuk kecamatan terpencil, pelatihan penjamah makanan sekolah oleh Poltekkes, dan monitoring bulanan oleh tim lintas sektor. dr. Rina optimis, “Dengan dukungan Poltekkes Kuningan, MBG bukan hanya program, tapi gerakan. Target turun stunting di bawah 14 persen nasional pada 2026 bisa dicapai jika implementasi tepat sasaran.” Dampak awal: berat badan siswa SD naik rata-rata 0,5 kg sejak program, dan absensi sekolah meningkat 10 persen berkat gizi lebih baik.
Kolaborasi Poltekkes Kuningan dengan Dinkes menjadi model sukses pencegahan stunting. Di Kuningan, dengan 1,2 juta penduduk dan 40 persen anak sekolah, MBG bukan hanya makanan, tapi investasi masa depan. Edukasi, monitoring, dan inovasi adalah senjata utama—untuk Kuningan sehat dan generasi emas cerdas.
