Muscab ini menjadi forum tertinggi IDI Bekasi untuk mendiskusikan isu profesional, termasuk pemilihan ketua baru antara dua kandidat: dr. Iskandar dan dr. Ahmad Syahlani. Sekretaris Jenderal IDI Cabang Bekasi, dr. Adi Pranaya, menyoroti antusiasme anggota yang luar biasa. “Antusiasme para dokter di Kabupaten Bekasi luar biasa. Ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan dan profesionalisme tenaga medis masih sangat tinggi,” ujar dr. Adi, seperti dikutip dari https://poltekkesbekasi.org. Ia menambahkan, “Siapapun yang terpilih, kami berharap bisa saling bergandeng tangan demi mewujudkan Bekasi yang lebih baik, tentu dengan tetap bermitra bersama pemerintah daerah.” IDI Bekasi, dengan 9 program bidang kerja termasuk 5 bidang utama dan 3 tim pemberdayaan anggota, telah menangani lebih dari 10 kasus pembelaan anggota dan evaluasi etika pada 10 kasus lainnya.
Poltekkes Kemenkes Bekasi siap jadi mitra utama dalam kolaborasi ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes fokus mencetak tenaga kesehatan yang kompeten dan beretika, selaras dengan pengawasan praktik dokter yang digaungkan IDI. Direktur Poltekkes Bekasi, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan kesiapan lembaga ini. “Kolaborasi IDI dan Pemkab Bekasi adalah peluang emas. Kami siap libatkan mahasiswa Jurusan Keperawatan dan Kebidanan dalam PKL (Praktik Kerja Lapangan) untuk dukung pengawasan etika medis dan pelatihan dokter muda. Di Bekasi, dengan 2,5 juta penduduk, sinergi ini krusial untuk tingkatkan UHC (Universal Health Coverage) 95 persen,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga rencanakan workshop bersama IDI untuk simulasi kasus etika medis, memastikan dokter dan perawat selaras dalam pelayanan.
Upaya kolaborasi ini difokuskan pada pemulihan peran IDI dalam pengawasan praktik dokter, yang sempat bergeser ke kolegium spesialis akibat perubahan regulasi. dr. Adi Pranaya menekankan, “Dengan perubahan tersebut, IDI tidak lagi memiliki peran langsung dalam pengawasan praktik dokter. Karena itu, kami berharap ke depan organisasi profesi seperti IDI bisa kembali digandeng pemerintah daerah agar fungsi pembinaan dan pengawasan tetap berjalan efektif.” Pemkab Bekasi, melalui Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, H. Bambang Suharto, menyambut baik. “Sinergi ini akan tingkatkan marwah profesi medis dan pelayanan kesehatan Bekasi. Poltekkes Bekasi jadi jembatan penting untuk cetak SDM kesehatan yang etis dan kompeten.”
Dampak kolaborasi ini diharapkan luas: tingkatkan cakupan skrining kesehatan rutin, kurangi malpraktik, dan perkuat layanan primer di puskesmas. Di Bekasi, di mana urbanisasi cepat sering picu isu kesehatan seperti diabetes dan hipertensi, sinergi ini jadi model nasional. Dengan Muscab IDI dan dukungan Poltekkes Bekasi, layanan kesehatan bukan lagi reaktif, tapi proaktif—untuk Bekasi sehat dan maju.
