Peluncuran program CKG dimulai pada 21 Agustus 2025 dan berlangsung hingga 24 September 2025, dengan kegiatan puncak di SDN 01 Ngabang pada Rabu, 24 September 2025. Di lokasi tersebut, sekitar 426 siswa kelas I hingga VI menjalani pemeriksaan di ruang kelas dan halaman sekolah, dengan antrean rapi berdasarkan kelas. Jenis pemeriksaan yang dilakukan sangat komprehensif: pengukuran tekanan darah, pemeriksaan gigi dan telinga, timbang tinggi-berat badan, tes mata, serta evaluasi kebugaran umum. Program ini menggunakan dua metode utama: pemeriksaan langsung oleh tim medis dan skrining tidak langsung melalui kuesioner yang disebar ke orang tua untuk mengidentifikasi faktor risiko penyakit.
Ns. Tikha Sugiarti, S.Kep, pengelola Program UKS Puskesmas Ngabang, menjelaskan pendekatan ganda ini sebagai kunci efektivitas. “Pemeriksaan dilakukan dengan dua metode, pemeriksaan langsung dan tidak langsung,” ujarnya dikutip https://poltekkesngabang.org. Ia menambahkan, “Jadi misalnya kami temukan adanya faktor-faktor risiko penyakit pada anak, maka akan disampaikan kepada orang tua untuk melakukan pemeriksaan lanjutan ke puskesmas.” Selain itu, tim juga memberikan edukasi langsung kepada siswa tentang pola makan sehat dan kebiasaan higiene, seperti menyikat gigi dua kali sehari dan cuci tangan sebelum makan. Hingga akhir September 2025, program telah menjangkau 26 sekolah di Kecamatan Ngabang, dengan rencana ekspansi ke sekolah-sekolah lain untuk menutup target 14.969 siswa.
Poltekkes Kemenkes Ngabang memainkan peran strategis dalam program ini. Sebagai mitra Puskesmas, Poltekkes menyumbang 50 mahasiswa dan 10 dosen dari Program Studi Keperawatan, Kesehatan Gigi, dan Kesehatan Masyarakat untuk pelaksanaan teknis. Direktur Poltekkes Ngabang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menekankan bahwa keterlibatan ini selaras dengan misi Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Mahasiswa kami tidak hanya belajar, tapi juga berkontribusi nyata. Melalui PKL, mereka mendampingi pemeriksaan dan edukasi, sehingga program CKG jadi lebih efektif. Di Landak, di mana akses kesehatan terbatas, deteksi dini seperti ini bisa cegah penyakit kronis di masa depan,” katanya.
Temuan awal program menunjukkan masalah umum di kalangan pelajar: 20% siswa mengalami masalah gigi seperti karies dan plak, 15% memiliki tekanan darah tidak normal, dan 10% butuh rujukan untuk tes mata. Verdiana Eda, Kepala SDN 01 Ngabang, menyampaikan apresiasi atas program pemerintah ini. “Kami sangat senang dengan dukungan Poltekkes dan Puskesmas. Anak-anak mendapat pemeriksaan gratis dan edukasi yang bermanfaat,” ujarnya.
Ke depan, Poltekkes Ngabang berencana memperluas program CKG ke desa-desa terpencil di Landak, dengan integrasi digital seperti aplikasi monitoring kesehatan siswa. Kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan derajat kesehatan pelajar, tapi juga membangun generasi muda yang sadar sehat. Di era di mana penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi mengintai sejak usia dini, inisiatif seperti CKG menjadi benteng utama. Poltekkes Ngabang membuktikan bahwa pendidikan kesehatan vokasi adalah jembatan antara kebijakan dan realitas lapangan—mewujudkan Landak sehat untuk semua.
