Pada Selasa, 9 September 2025, Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang menggelar forum kajian evaluasi implementasi MMS di ruang rapat Diskes Bontang, dengan melibatkan bidang gizi, kesehatan ibu dan anak (KIA), promosi kesehatan, serta farmasi. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan program, seperti tingkat kepatuhan ibu hamil yang masih rendah (sekitar 65 persen), tantangan distribusi di daerah terpencil, dan minimnya sosialisasi. Bachtiar Mabe, Kepala Diskes Bontang, menekankan pentingnya evaluasi ini sebagai dasar perbaikan. “Dengan kajian ini, kita bisa mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan implementasi MMS. Dari sana, langkah perbaikan bisa dirumuskan,” ujar Bachtiar Mabe, seperti dikutip dari https://poltekkeskotabontang.org. Ia menambahkan bahwa MMS lebih komprehensif daripada TTD, karena mengandung 15 jenis nutrisi esensial yang mendukung pertumbuhan janin optimal sejak trimester pertama.
Poltekkes Kemenkes Bontang memainkan peran krusial dalam mendukung kajian ini. Melalui cabang setempat, Poltekkes menyumbang pakar riset seperti Dr. Aminah Toaha, yang mempresentasikan metodologi penelitian untuk evaluasi data. Dr. Aminah menekankan akurasi data sebagai kunci rekomendasi tepat sasaran. “Data yang valid akan menghasilkan rekomendasi tepat sasaran. Dengan begitu, program ini benar-benar bermanfaat,” katanya. Sebagai politeknik vokasi, Poltekkes Bontang melibatkan 50 mahasiswa Jurusan Gizi dan Kebidanan dalam Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk survei lapangan di 20 puskesmas Bontang, mengumpulkan data kepatuhan MMS dan faktor penghambat seperti akses transportasi. Direktur Poltekkes Bontang, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa lembaga ini siap jadi mitra utama Diskes. “Kami dorong MMS sebagai suplemen revolusioner untuk cegah anemia berat yang mencapai 30 persen di Bontang. Mahasiswa kami edukasi ibu hamil tentang manfaat MMS untuk perkembangan otak janin, sekaligus bantu tingkatkan kepatuhan melalui konseling pribadi,” jelas Dr. Siti.
Diskes Bontang merencanakan pembentukan tim khusus untuk analisis data dan rekomendasi, termasuk kampanye sosialisasi di posyandu dan sekolah. Bambang Sri Mulyono, Kepala Bidang Promosi Kesehatan dan Komunikasi Diskes Bontang, menambahkan, “Kami jadikan hasil evaluasi sebagai dasar rencana aksi. Tujuannya jelas: meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu hamil.” Program ini selaras dengan target nasional Kemenkes untuk turunkan anemia ibu hamil menjadi 10 persen pada 2026, di mana MMS terbukti efektif meningkatkan hemoglobin 20 persen lebih baik daripada TTD.
Dengan gencaran suplemen MMS, Bontang tidak hanya cegah anemia, tapi juga ciptakan generasi emas sehat. Poltekkes Bontang, melalui riset dan edukasi, membuktikan peran vokasi kesehatan dalam transformasi masyarakat—untuk Bontang maju dan sejahtera.
