Poltekkes Cianjur Soroti Lonjakan Kasus Chikungunya

Poltekkes Cianjur Soroti Lonjakan Kasus Chikungunya

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, kembali dihadapkan pada ancaman kesehatan masyarakat akibat lonjakan kasus chikungunya di Kecamatan Ciranjang. Sebanyak 30 warga Kampung Bantar Gebang, Desa Ciranjang, terjangkit penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini sejak akhir September 2025. Dari jumlah tersebut, 20 orang telah menunjukkan tanda pemulihan, sementara 10 lainnya masih menjalani pengobatan intensif dan dijadwalkan dirujuk ke puskesmas setempat. Kasus ini menjadi sorotan tajam dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Cianjur, yang menyerukan peningkatan kesadaran pencegahan melalui kebersihan lingkungan dan pengendalian vektor nyamuk, mengingatkan bahwa chikungunya bukan hanya gejala sementara tapi bisa memicu komplikasi jangka panjang seperti nyeri sendi kronis.


Chikungunya, infeksi virus yang disebabkan oleh alphavirus, menyerang dengan gejala akut seperti demam tinggi, nyeri sendi hebat, kelemahan tubuh hingga kesulitan berjalan, tulang linu, dan munculnya bintik-bintik merah di kulit. Ades Sehendi, salah satu warga terdampak, menggambarkan penderitaannya. “Tiga hari lalu panas tinggi, sendi sakit, sampai tidak bisa berdiri. Sekarang sudah bisa jalan, tapi masih terasa nyeri. Istri saya masih terbaring lemas,” ceritanya, seperti dikutip dari https://poltekkescianjur.org. Yani, warga lain, menambahkan, “Awalnya cuma agak susah jalan, tapi makin hari makin parah sampai tidak bisa jalan sama sekali. Badan panas, tulang linu, keluar bintik-bintik.” Gejala ini sering disalahartikan sebagai flu biasa, tapi bisa bertahan hingga dua minggu, dengan risiko nyeri sendi berulang selama berbulan-bulan.

Penyebab utama adalah perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti di lingkungan lembab seperti selokan tersumbat dan pekarangan rumah yang jarang dibersihkan. Di Kampung Bantar Gebang, warga telah menggelar kerja bakti massal untuk membersihkan lingkungan, termasuk selokan dan tempat potensial sarang nyamuk. Ketua RW Bantar Gebang, Cahwan Sundara, menegaskan, “Yang utama itu bersih-bersih. Kalau fogging bukan solusi utama, tapi kebersihan lingkungan harus dijaga supaya nyamuk tidak berkembang biak.” Sementara Ketua RT setempat, Sinta Sulistia, melaporkan, “Data sekarang totalnya 30 orang. Ada yang sudah sehat, ada juga yang masih sakit. Bahkan kemungkinan besok beberapa warga akan dirujuk ke puskesmas.”

Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Cianjur, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, merespons dengan program pengabdian masyarakat yang intensif. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Direktur Poltekkes Cianjur, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyoroti urgensi surveilans. “Lonjakan 30 kasus ini alarm bagi kami. Di Cianjur, dengan 2,5 juta penduduk dan drainase buruk, chikungunya bisa jadi KLB jika tidak ditangani dini. Mahasiswa kami dari Jurusan Kesehatan Lingkungan turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk edukasi 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, plus Menabur larvasida) dan demo cuci tangan pakai sabun di 20 RW prioritas,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining cepat chikungunya di kampus, mendeteksi 50 kasus positif sejak Juli 2025 untuk rujukan ke puskesmas.

Upaya pencegahan meliputi fogging massal dan program “Jumantik Cilik” di sekolah untuk libatkan anak-anak sebagai agen PSN. Dampak awal: kasus chikungunya turun 15 persen di RW sasaran sejak November 2025, berkat partisipasi masyarakat. Poltekkes rencanakan workshop bulanan untuk 300 kader RW pada 2026, terintegrasi dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Dengan sorotan Poltekkes Cianjur, chikungunya bukan lagi musuh tak terlihat, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi, surveilans, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Cianjur sehat dan bebas dengue.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita