Kepala DLH Mahakam Ulu, Ir. H. Suryadi, MT, menekankan bahwa pengelolaan sampah bukan lagi tanggung jawab individu, melainkan kolektif. “Kami dorong kesadaran warga untuk kelola sampah dengan benar, mulai dari pemilahan di rumah hingga daur ulang. Sampah yang dibuang sembarangan ke sungai Mahakam bisa picu banjir dan pencemaran air, yang berdampak pada kesehatan masyarakat,” ujar Suryadi, seperti dikutip dari https://poltekkesmahakamulu.org. Ia menambahkan bahwa kegiatan sosialisasi melibatkan workshop di 10 desa prioritas seperti Long Bagun dan Datah Bilang, di mana warga diajari teknik 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Tantangan utama adalah kesadaran rendah di kalangan masyarakat adat Dayak, yang masih terbiasa membuang sampah ke sungai sebagai bagian dari tradisi, meskipun hal itu kini mengancam sumber air minum dan perikanan.
Poltekkes Kemenkes Mahakam Ulu memainkan peran krusial dalam kolaborasi ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan, Poltekkes menyumbang tim dosen dan 50 mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan untuk mendampingi sosialisasi. Direktur Poltekkes Mahakam Ulu, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah langsung terkait kesehatan. “Sampah yang tidak dikelola dengan baik jadi sarang nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD, dan kontaminasi air picu diare yang menewaskan ratusan anak setiap tahun. Melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL), mahasiswa kami ajak warga terapkan PHBS berbasis sampah, seperti kompos organik untuk cegah banjir sampah,” katanya.
Program sosialisasi mencakup demo pemilahan sampah di rumah tangga, pembuatan bank sampah desa, dan pelatihan kader untuk monitoring lingkungan. Di Long Bagun, misalnya, warga diajari mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos, yang tidak hanya kurangi volume sampah tapi juga tingkatkan kesuburan tanah untuk pertanian subsisten. Hasil awal menunjukkan peningkatan kesadaran 60 persen di desa sasaran, dengan penurunan kasus diare 25 persen sejak program dimulai Juni 2025. “Sampah adalah musuh diam-diam kesehatan. Dengan kesadaran warga, Mahakam Ulu bisa jadi model daerah sehat bebas sampah,” tambah Suryadi.
Poltekkes Mahakam Ulu juga mengintegrasikan edukasi ini ke kurikulum, dengan riset mahasiswa tentang dampak sampah terhadap stunting di anak. Ke depan, kolaborasi dengan DLH akan diperluas ke 20 desa, termasuk kampanye "Mahakam Bersih, Kesehatan Aman". Dengan dorongan Poltekkes, warga Mahakam Ulu bukan lagi korban sampah, tapi pelopor lingkungan sehat—untuk generasi yang lestari dan bebas penyakit.
