Poltekkes Bekasi Apresiasi Penetapan Bebas Frambusia

Poltekkes Bekasi Apresiasi Penetapan Bebas Frambusia

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, meraih prestasi membanggakan dengan ditetapkannya sebagai daerah bebas frambusia oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada 2025. Penghargaan ini menjadikan Bekasi salah satu dari 89 kabupaten/kota di Indonesia yang berhasil eliminasi penyakit infeksi kronis tersebut, setelah melalui proses evaluasi ketat selama lima tahun berturut-turut. Tidak adanya kasus baru frambusia, ditambah hasil skrining dan pemeriksaan sampel pada individu yang dicurigai terpapar yang semuanya negatif, menjadi bukti keberhasilan upaya pencegahan berbasis komunitas. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Bekasi, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, menyambut baik prestasi tersebut dengan apresiasi mendalam, sekaligus menegaskan komitmen lanjutan untuk mempertahankan status bebas frambusia melalui edukasi dan pengabdian masyarakat.


Frambusia, atau yaws, adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang disebabkan oleh Treponema pertenue, anggota keluarga bakteri sifilis, yang menyerang kulit, tulang, dan tulang rawan. Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung dengan kulit orang terinfeksi, terutama pada anak-anak di lingkungan lembab dan sanitasi buruk. Tanda awal berupa luka tunggal mirip buah beri yang gatal, yang jika tidak diobati bisa berkembang menjadi lesi sekunder menyebabkan kerusakan permanen dan cacat fisik. Di Indonesia, frambusia masih endemik di beberapa daerah tropis, tapi Bekasi berhasil mematahkan rantai penularannya berkat strategi pencegahan yang holistik. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Alamsyah, menyatakan kegembiraan atas pencapaian ini. “Alhamdulillah ini merupakan keberhasilan bersama di bawah leading sector Bappeda serta dukungan dari Bupati dan Wakil Bupati Bekasi, Sekda hingga seluruh lintas sektor lain,” ujar Alamsyah, seperti dikutip dari https://poltekkesbekasi.id.

Prestasi bebas frambusia ini diraih setelah evaluasi mendalam oleh Kemenkes, termasuk survei serologi dan klinis yang menunjukkan nol kasus positif. Upaya pencegahan melibatkan penjagaan lingkungan yang ketat, promosi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta penguatan peran lintas sektor seperti pendidikan, sanitasi, dan pemberdayaan masyarakat. Alamsyah menekankan keterkaitan frambusia dengan kualitas lingkungan. “Karena penyakit ini sangat erat kaitan bagaimana kualitas lingkungan hidup serta perilaku hidup yang berkaitan dengan kebersihan diri perorangan,” katanya. Komitmen mempertahankan predikat ini mencakup pelaporan cepat kasus dicurigai ke puskesmas atau rumah sakit untuk antisipasi, memastikan Bekasi tetap bebas dari ancaman tropis yang merugikan.

Poltekkes Kemenkes Bekasi menyambut prestasi ini dengan apresiasi penuh, sekaligus menegaskan peran lembaga dalam mendukung upaya pencegahan. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes telah berkontribusi melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan dan Promosi Kesehatan, yang turun ke lapangan untuk edukasi PHBS di 20 desa prioritas. Direktur Poltekkes Bekasi, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan, “Penetapan bebas frambusia adalah kemenangan kolektif yang patut diapresiasi. Mahasiswa kami dampingi skrining klinis dan edukasi sanitasi, cegah penularan melalui kontak kulit di lingkungan lembab. Ini selaras dengan Tri Dharma kami: pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Ke depan, kami siap perkuat riset untuk model pencegahan tropis berkelanjutan, agar Bekasi tetap bebas frambusia selamanya.”

Kolaborasi Poltekkes dengan Dinkes Bekasi dan Bappeda telah menghasilkan modul edukasi berbasis komunitas, termasuk kampanye “Bekasi Bebas Tropis” yang menjangkau 5.000 warga sejak 2024. Di Bekasi, di mana urbanisasi cepat sering hambat sanitasi, program ini krusial untuk lindungi anak-anak dari lesi kulit yang bisa cacatkan. Dampaknya, kasus dicurigai turun 40 persen sejak 2023, berkat pelaporan cepat.

Dengan apresiasi Poltekkes Bekasi, bebas frambusia bukan akhir, tapi awal dari era kesehatan lingkungan unggul. Edukasi, surveilans, dan kolaborasi adalah senjata utama—untuk Bekasi sehat dan lestari.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita