Kegiatan dibuka secara resmi oleh Bupati Kerinci (diwakili) dan Kepala Dinas Kesehatan Kerinci, dr. Hermendizal. Dalam sambutannya, dr. Hermendizal menyampaikan bahwa sunatan massal ini bukan hanya ibadah, tapi juga upaya meningkatkan derajat kesehatan anak. “Kami ingin anak-anak Kerinci tidak hanya sehat secara fisik, tapi juga terhindar dari risiko infeksi akibat sunat tidak steril. Terima kasih kepada Poltekkes Siulak yang menjadi ujung tombak pelaksanaan medis,” ujarnya, seperti dikutip dari https://poltekkessiulak.org.
Poltekkes Kemenkes Siulak, yang berlokasi strategis di Kecamatan Siulak, menjadi pusat koordinasi medis kegiatan ini. Tim yang dipimpin Direktur Poltekkes Siulak, Dr. Hj. Yuliana, M.Kes, membawa peralatan steril modern, obat anestesi lokal, serta tim anestesi untuk memastikan anak-anak tidak merasakan sakit berlebih. Lebih dari 30 mahasiswa dan 10 dosen terlibat langsung—mulai dari persiapan ruang operasi darurat, sterilisasi alat, hingga perawatan pasca-sunat. “Ini bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi kami: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Mahasiswa belajar langsung teknik sunat modern dengan metode klamp dan laser yang minim perdarahan, sekaligus melayani masyarakat,” jelas Dr. Yuliana.
Proses sunat dibagi menjadi beberapa sesi agar tidak terlalu ramai. Setiap anak mendapat pemeriksaan kesehatan awal (tensi, suhu tubuh, riwayat alergi obat), kemudian dijelaskan prosedur oleh tim Poltekkes dengan bahasa yang ramah agar anak tidak takut. Setelah tindakan selesai, anak-anak mendapat paket perawatan berupa obat antibiotik, salep, serta sarung dan baju koko sebagai hadiah. Orang tua yang mendampingi juga mendapat edukasi cara merawat luka sunat di rumah selama 7–10 hari.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Sejak pagi, ratusan orang tua sudah mengantre membawa anak-anaknya. Seorang ibu dari Desa Tanjung Tanah, Ny. Sumiati (38), mengaku sangat terbantu. “Kalau sunat di klinik swasta bisa sampai Rp 1,5 juta. Alhamdulillah, hari ini gratis dan ditangani tim profesional dari Poltekkes. Anak saya tenang sekali, tidak menangis sama sekali,” ceritanya dengan senyum lega.
Kegiatan ini juga menjadi momentum pendidikan karakter bagi anak-anak. Sebelum pulang, setiap peserta mendapat penyuluhan singkat tentang kebersihan alat kelamin, pentingnya menjaga kesehatan reproduksi sejak dini, dan pola hidup bersih sehat (PHBS). Poltekkes Siulak bahkan menyediakan posko konsultasi gratis selama satu minggu pasca-acara untuk menangani keluhan lanjutan.
Keberhasilan sunatan massal 2025 ini tidak lepas dari dukungan sponsor, seperti perusahaan perkebunan dan pertambangan di Kerinci, serta donasi dari masyarakat. Bupati Kerinci berjanji kegiatan ini akan rutin digelar setiap tahun dengan target lebih banyak anak. Sementara itu, Poltekkes Siulak berkomitmen terus menjadi mitra utama Dinkes Kerinci dalam setiap kegiatan kesehatan massal, termasuk sunatan, vaksinasi, dan posyandu.Dengan partisipasi penuh Poltekkes Kemenkes Siulak, sunatan massal gratis ini bukan sekadar tradisi, tapi juga wujud nyata pengabdian tenaga kesehatan kepada masyarakat. Anak-anak Kerinci kini tidak hanya “disunat” secara agama, tapi juga diberi pelayanan medis terbaik—sebuah langkah kecil menuju generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia.
