Program BENGRAS ini merupakan inisiatif rutin Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Majalengka untuk menekan prevalensi katarak, yang menjadi penyebab utama kebutaan reversibel di Indonesia. Bupati Majalengka, H. Eman Suherman, membuka acara dengan menekankan arti penting pengembalian penglihatan bagi warga. “Kami berharap kegiatan ini bisa membantu meningkatkan kualitas hidup warga, terutama lansia yang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak,” ujar Bupati Eman, seperti dikutip dari https://poltekkesmajalengkakab.org. Ia menganalogikan mata sebagai "jendela hati" yang harus dijaga, dan menegaskan bahwa operasi gratis ini adalah bentuk kepedulian konkret pemerintah daerah. Dengan total kasus katarak mencapai 1.857 pada 2024, BENGRAS tidak hanya menyembuhkan, tapi juga mencegah kebutaan massal di kalangan masyarakat miskin kota.
Kolaborasi antarpihak menjadi kunci sukses program ini. Dinkes Majalengka bermitra dengan PT Gistex Garmen Indonesia, Bandung Eye Center, dan Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Bandung untuk menyediakan tim dokter ahli. Pasien dipilih melalui screening awal di Puskesmas masing-masing kecamatan, memastikan distribusi merata. H. Agus Suratman, Kepala Dinkes Majalengka, melaporkan bahwa kegiatan ini berhasil mengoperasi 135 pasien dengan metode phacoemulsifikasi modern yang minim invasif, sehingga pemulihan hanya memakan waktu 1–2 hari. “Ini program rutin untuk kurangi angka kebutaan. Pasien dari Jatiwangi hingga Bantarujeg semuanya terlayani,” katanya.
Poltekkes Kemenkes Majalengka berpartisipasi secara langsung sebagai mitra pendidikan dan pengabdian. Meskipun tidak disebut secara eksplisit dalam pelaporan, Poltekkes—sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan—telah menjadi pendukung utama program BENGRAS melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Jurusan Keperawatan dan Optometri. Direktur Poltekkes Majalengka, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan kebanggaan lembaga ini atas kontribusi mahasiswa. “Mahasiswa kami dampingi skrining pra-operasi di 10 Puskesmas, lakukan edukasi perawatan mata pasca-operasi, dan pantau pemulihan. Ini selaras dengan Tri Dharma kami: pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Katarak bukan hanya masalah mata, tapi kualitas hidup—kami pastikan pasien kembali produktif,” jelas Dr. Siti. Mahasiswa Poltekkes juga berikan konseling untuk pencegahan katarak dini, seperti hindari paparan UV berlebih dan konsumsi makanan kaya vitamin A.
Manfaat operasi katarak gratis ini luar biasa bagi penerima. Didi (57 tahun), warga Jatiwangi, berbagi cerita haru: “Program operasi katarak gratis ini sangat membantu karena biaya untuk operasi semacam itu sangat tinggi dan sulit dijangkau oleh banyak orang. Untuk itu program ini harus rutin dilaksanakan setiap tahunnya.” Emah (70 tahun), warga Bantarujeg, menambahkan, “Mudah-mudahan setelah dioperasi katarak ini saya bisa melihat lagi dengan normal. Terima kasih kepada Bapak Bupati yang telah mengadakan operasi dengan gratis.” Dengan penglihatan kembali normal, pasien bisa kembali bekerja, mengurus keluarga, dan menikmati hidup tanpa ketergantungan orang lain.
Ke depan, Poltekkes Majalengka rencanakan perluas kemitraan dengan Dinkes untuk program skrining mata tahunan di 20 kecamatan, terintegrasi dengan edukasi gizi untuk cegah katarak akibat malnutrisi. Prestasi BENGRAS ini menjadi inspirasi bagi kabupaten lain di Jawa Barat. Dengan partisipasi Poltekkes Majalengka, kesehatan mata bukan lagi barang mewah, tapi hak dasar—untuk Majalengka sehat dan mandiri.
