Poltekkes Landak Tanggapi Lonjakan Kasus HIV/AIDS: Dorong Deteksi Dini untuk Hentikan Penularan

Poltekkes Landak Tanggapi Lonjakan Kasus HIV/AIDS: Dorong Deteksi Dini untuk Hentikan Penularan

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, menjadi salah satu daerah yang mengkhawatirkan di Kalbar karena kasus HIV/AIDS terus melonjak. Data Dinas Kesehatan Landak per Oktober 2025 mencatat 1.284 kasus sejak 2004, dengan 312 kasus baru pada 2024–2025 saja. Kecamatan Ngabang menempati posisi tertinggi, diikuti Sengah Temila dan Menjalin. Yang paling memprihatinkan, bayi dan anak-anak mulai menjadi korban akibat penularan vertikal dari ibu positif HIV. Kondisi ini memicu respons cepat dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Landak, yang segera menggelar serangkaian aksi pencegahan dan edukasi intensif untuk memutus rantai penularan.


Direktur Poltekkes Kemenkes Landak, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa peningkatan kasus ini bukan hanya masalah medis, tapi juga sosial dan budaya yang harus ditangani secara holistik. “Kami sangat prihatin melihat bayi menjadi korban. Poltekkes Landak siap menjadi garda terdepan dengan mengerahkan mahasiswa dan dosen untuk program deteksi dini, konseling, dan edukasi di desa-desa rawan,” ujar Dr. Siti pada konferensi pers 15 November 2025 dikutip dari laman https://poltekkeslandak.org. Ia menekankan bahwa stigma masih menjadi penghalang utama; banyak penderita enggan tes karena takut dikucilkan, sehingga virus terus menyebar tanpa terdeteksi.

Poltekkes Landak langsung meluncurkan tiga program prioritas:

  1. Screening massal berbasis komunitas
    Mulai November 2025, 150 mahasiswa Program Studi Keperawatan dan Analis Kesehatan turun ke 20 desa prioritas di Ngabang dan Menjalin untuk tes cepat HIV gratis. Mereka bekerja sama dengan Puskesmas setempat dan kader posyandu, menargetkan ibu hamil, pasangan suami-istri, serta kelompok berisiko tinggi.
  2. Edukasi anti-stigma dan pencegahan
    Menggunakan metode door-to-door dan pertemuan kelompok kecil, tim Poltekkes memberikan penyuluhan tentang cara penularan (hubungan seksual, jarum suntik, transfusi darah, vertikal ibu-bayi) serta pentingnya penggunaan kondom dan tes rutin. Materi disesuaikan dengan budaya Dayak setempat agar lebih mudah diterima.
  3. Pendampingan ibu hamil positif HIV
    Khusus untuk mencegah penularan ke bayi, Poltekkes membuka layanan konseling khusus dan memastikan pemberian obat ARV (Antiretroviral) sejak trimester pertama. “Dengan pengobatan yang tepat, risiko penularan dari ibu ke bayi bisa ditekan hingga di bawah 2%,” jelas Ns. Rina Sari, M.Kep, koordinator program.

Kepala Dinkes Landak, dr. Yulia Herawati, menyambut baik inisiatif Poltekkes. “Kami kekurangan tenaga konselor VCT (Voluntary Counseling and Testing). Kehadiran mahasiswa Poltekkes sangat membantu mempercepat capaian target penemuan kasus 95% pada 2030,” katanya. Ia juga mengungkapkan bahwa dari 312 kasus baru, 18 di antaranya adalah anak di bawah 14 tahun—sebagian besar tertular dari ibu.

Poltekkes Landak tidak berhenti pada aksi lapangan. Mereka juga mengintegrasikan isu HIV/AIDS ke dalam kurikulum Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa, termasuk simulasi konseling dan penanganan pasien ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) di rumah sakit mitra. “Kami ingin lulusan Poltekkes Landak menjadi tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tapi juga humanis dan bebas stigma,” tambah Dr. Siti Nurhaliza.

Dampak awal sudah terlihat: dalam dua minggu pertama kampanye, 450 warga Ngabang melakukan tes sukarela—rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebanyak 12 kasus baru terdeteksi dini dan langsung dirujuk untuk pengobatan gratis melalui program JKN. Beberapa ibu hamil positif HIV kini rutin minum ARV dan melahirkan bayi negatif HIV.

Lonjakan HIV/AIDS di Landak adalah panggilan darurat. Dengan respons cepat dan terkoordinasi dari Poltekkes Kemenkes Landak, harapan untuk menekan angka penularan—terutama pada bayi—semakin besar. Edukasi, deteksi dini, dan pengobatan gratis adalah senjata utama. Mari bersama wujudkan Landak zero new infection dan zero stigma—karena setiap nyawa, termasuk bayi yang baru lahir, berhak hidup sehat dan bermartabat.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita