Pelatihan dibuka secara daring oleh Direktur Poltekkes Kemenkes Kaltim, Dr. M. H. Supriadi, B., S.Kp., M.Kep, yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif kolaboratif ini. “Program ini sangat strategis untuk pembekalan standar bagi kader sebagai garda terdepan kesehatan masyarakat. Dengan kompetensi yang ditingkatkan, kader posyandu bisa lebih efektif mendeteksi dini masalah gizi dan memberikan konseling yang tepat,” ujar Dr. Supriadi, seperti dikutip dari https://poltekkeskutaikartanegara.org/. Ia menekankan bahwa pelatihan seperti ini selaras dengan visi Kementerian Kesehatan untuk mencapai Universal Health Coverage (UHC) 95 persen, di mana kader posyandu berperan sebagai ujung tombak layanan primer di daerah terpencil seperti Kutai Kartanegara.
Materi pelatihan disampaikan oleh praktisi dan pengajar bersertifikat dari Poltekkes Kemenkes, mencakup topik esensial seperti penimbangan bayi, pengukuran antropometri, konseling gizi, dan penanganan kasus stunting. Peserta dibagi dalam kelompok kecil untuk diskusi kasus lapangan, di mana mereka berbagi pengalaman menghadapi tantangan seperti akses pangan terbatas di desa-desa pedalaman. Praktik langsung dilakukan di Puskesmas Kembang Janggut, di mana kader dilatih menggunakan alat timbangan digital dan pita pengukur untuk memantau pertumbuhan anak secara akurat. Sonny Prayoga, Kepala Teknik Tambang PT IBP, yang hadir secara langsung, menyatakan komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar area operasi. “Sebagai perusahaan pertambangan, PT IBP berkomitmen penuh melalui CSR untuk mendukung kesehatan komunitas. Pelatihan ini diharapkan jadikan kader mitra kerja handal bagi petugas kesehatan, sehingga stunting dan gizi buruk bisa ditekan di wilayah kami,” katanya.
Herman Jalung, Manager Eksternal PT IBP, menambahkan bahwa program ini bagian dari upaya berkelanjutan untuk pembangunan masyarakat. “Kami bangga berkolaborasi dengan Poltekkes Kemenkes Kaltim. Hasil pelatihan ini diharapkan langsung diterapkan di posyandu, sehingga ibu hamil dan balita di desa-desa seperti Long Beleh mendapat pelayanan optimal.” Peserta pelatihan, mayoritas ibu-ibu rumah tangga yang menjadi kader sukarela, menyambut baik kegiatan ini. “Sebelumnya, kami sering kesulitan ukur berat badan bayi secara tepat. Sekarang, dengan pelatihan ini, kami lebih percaya diri konseling orang tua tentang gizi anak,” ujar salah seorang kader dari Desa Muai.
Poltekkes Kemenkes Kaltim, melalui cabang Kutai Kartanegara, memainkan peran krusial dalam pelatihan ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan, Poltekkes tidak hanya menyediakan narasumber ahli, tapi juga melibatkan 20 mahasiswa Jurusan Gizi dan Keperawatan sebagai fasilitator lapangan. Direktur Poltekkes Kaltim, Dr. M. H. Supriadi, menekankan bahwa kegiatan ini selaras dengan misi Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Mahasiswa kami belajar langsung melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL), sambil berkontribusi pada program nasional percepatan penurunan stunting. Di Kutai Kartanegara, di mana prevalensi stunting mencapai 25 persen, pelatihan kader adalah investasi untuk generasi sehat,” jelasnya.
Keberhasilan pelatihan ini diharapkan menjadi model bagi desa-desa lain di Kutai Kartanegara. Dengan dukungan PT IBP melalui CSR, program ini tidak hanya tingkatkan kompetensi kader, tapi juga perkuat jaringan kesehatan primer. Di tengah tantangan geografis pedalaman, inisiatif seperti ini membuktikan bahwa kolaborasi akademisi, perusahaan, dan pemerintah daerah bisa wujudkan masyarakat sehat dan mandiri. Kutai Kartanegara, dengan kader posyandu yang terlatih, siap lawan stunting—untuk masa depan anak-anak yang lebih cerah.
