Poltekkes Singaparna Khawatir Tingginya Kasus HIV/AIDS: Dorong Edukasi Dini dan Pengobatan Gratis

Poltekkes Singaparna Khawatir Tingginya Kasus HIV/AIDS: Dorong Edukasi Dini dan Pengobatan Gratis

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, menghadapi krisis kesehatan yang semakin memprihatinkan dengan lonjakan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang tertinggi di tiga kecamatan: Singaparna, Ciawi, dan Rajapolah. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Tasikmalaya mencatat 1.200 kasus baru sepanjang 2025, naik 25 persen dari tahun sebelumnya, dengan Singaparna sebagai penyumbang terbesar (320 kasus), diikuti Ciawi (280 kasus) dan Rajapolah (250 kasus). Mayoritas kasus terjadi pada usia produktif 15–49 tahun, dengan penularan utama melalui hubungan seksual tidak aman (70 persen) dan penggunaan jarum suntik bersama (20 persen). Lonjakan ini menjadi sorotan tajam dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Singaparna, yang menyatakan keprihatinan mendalam atas dampaknya terhadap generasi muda.


Kepala Dinkes Tasikmalaya, dr. Hj. Rina Wijayanti, M.Kes, menjelaskan bahwa peningkatan kasus ini dipicu faktor sosial-ekonomi seperti mobilitas tinggi pekerja migran dan kurangnya edukasi reproduksi. “Kasus HIV/AIDS tertinggi di Singaparna, Ciawi, dan Rajapolah. Ini alarm bagi kami, karena mayoritas penderita usia muda yang seharusnya jadi tulang punggung pembangunan,” ujar dr. Rina, seperti dikutip dari https://poltekkessingaparna.org. Ia menambahkan bahwa dari 1.200 kasus, hanya 60 persen yang mendapat terapi antiretroviral (ARV) gratis melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), meninggalkan 40 persen tanpa pengobatan akibat stigma dan akses terbatas. Gejala awal seperti demam berkepanjangan, penurunan berat badan, dan infeksi oportunistik sering terabaikan, sehingga virus berkembang menjadi AIDS stadium lanjut.

Politeknik Kesehatan Kemenkes Singaparna, dengan basis di kawasan urban Singaparna, merespons dengan program pengabdian masyarakat yang intensif. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes tidak hanya mendokumentasikan kasus, tapi juga mendorong pencegahan proaktif. Direktur Poltekkes Singaparna, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyoroti urgensi surveilans. “Tingginya kasus di tiga kecamatan ini khawatirkan kami. Di Singaparna, dengan 1,2 juta penduduk, HIV/AIDS bisa jadi epidemi jika tidak dicegah dini. Mahasiswa kami dari Jurusan Kesehatan Masyarakat turun lapangan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk edukasi VCT (Voluntary Counseling and Testing) gratis dan pencegahan: gunakan kondom, hindari jarum suntik bersama, dan cegah pergaulan bebas,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan tes cepat HIV di kampus, mendeteksi 150 kasus positif sejak Januari 2025 untuk rujukan ke puskesmas.

Upaya pencegahan meliputi kampanye “Singaparna Bebas Stigma HIV” di 20 sekolah prioritas, dengan sosialisasi tentang cara penularan dan pengobatan ARV yang membuat viral load tak terdeteksi. dr. Rina menambahkan, “Kami tingkatkan layanan ARV gratis, tapi edukasi remaja krusial untuk turunkan angka baru. Target 2026: nol kasus baru di usia muda.” Dampak awal: kesadaran remaja naik 35 persen sejak Mei 2025, dengan 500 tes VCT gratis yang dilakukan Poltekkes.

Dengan sorotan Poltekkes Singaparna, HIV/AIDS bukan lagi tabu, tapi tantangan yang bisa diatasi bersama. Edukasi dini, tes rutin, dan pengobatan gratis adalah senjata utama—untuk Tasikmalaya sehat dan generasi muda bebas stigma.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita