Sikap Ustaz Salafi Terhadap UAH soal Musik Dikritik MUI Sebagai Arogan dan Kurang Bijaksana

Sikap Ustaz Salafi Terhadap UAH soal Musik Dikritik MUI Sebagai Arogan dan Kurang Bijaksana

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Sikap Ustaz Salafi Terhadap UAH soal Musik Dikritik MUI Sebagai Arogan dan Kurang Bijaksana

GELORA.CO -
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Seni, Budaya, dan Peradaban Islam, KH Dr Jeje Zaenudin merespons Ustaz Salafi yang menyebut Ustaz Adi Hidayat (UAH) rusak karena pendapatnya soal musik.

Dia menilai, perdebatan tersebut tidak produktif dan tidak memberikan solusi apapun. Terlebih, lanjut dia, bila sudah saling mencela dan menghakimi pihak tertentu.

"Malah berdampak pro-kontra di kalangan masyarakat awam yang diikuti dengan saling mecela dan menghakimi antara yang pro dan kontra," kata KH Jeje kepada inilah.com di Jakarta, Sabtu (11/5/2024).

Menurut Kiai Jeje, memaksakan kehendak untuk membuat orang lain tunduk dan hanya mengikuti pendapat suatu kelompok mazhab tertentu yang diklaim paling benar merupakan sebuah sikap yang arogan dan tidak bijak.

"Seharusnya masyarakat pada saat ini mencari solusi dari fenomena dan fakta berkembangnya industri musik dan nyanyian yang telah menjadi bagian budaya kehidupan masyarakat manusia secara global," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam tersebut.

Ia pun menyebut, tak bisa dipungkiri sebagian dari musik dapat merusak akhlak, moral dan keadaban masyarakat. Namun, hal ini tidak bisa diselesaikan dengan menjeneralisasi hukumnya termasuk anggapan bahwa segala jenis musik dan lagu adalah haram.

"Dari tinjauan filosofi dan normatifnya, musik dan nyanyian atau lagu adalah bagian dari ekspresi naluri keindahan dalam diri manusia. Sedang naluri keindahan itu sendiri adalah bagian dari fitrah penciptaan manusia," katanya.

Kiai Jeje melanjutkan, adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama sejak zaman dahulu menunjukkan bahwa masalah musik dan lagu tidak ada dalil yang qath'i dan sharih atau dalil yang secara pasti dan tegas dari Al Quran, Hadits, maupun ijmak ulama tentang pengharamannya secara mutlak.

"Semua dalil yang dijadikan sandaran bersifat zhanny, atau dalalah -dalil- yang penafsirannya bersifat ijtihady atau subjektif. Oleh sebab itu, sepatutnya kita semua bersikap tasamuh atau toleran terhadap pendapat yang berbeda," tuturnya.

Ia manambahkan, bahwa keindahan merupakan sifat yang dicintai Allah. Dalam hadits sahih Rasul bersabda bahwa Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan, termasuk musik dan lagu yang merupakan ekspresi fitrah manusia tentang keindahan suara dan nada.

"Maka menjadi tugas para ulama kita memberi solusi, bimbingan, dan arahan kepada umatnya, bagaimana perkembangan seni dan budaya itu berada dalam relnya sebagai ekspresi fitrah naluriah yang Allah karuniakan kepada manusia, agar tidak melanggar akidah dan syariah agama-Nya," ujar Kiai Jeje.

UAH belakangan menuai sorotan selepas video lamanya yang membahas mengenai musik kembali muncul kepermukaan.

Dalam sebuah tayangan video di media sosial X, UAH yang dikenal sebagai ulama muda kharismatik itu bahkan mendapat kecaman yang menjurus pada narasi penghinaan.

Mulanya, akun X @Just_Ab1 itu mengunggah video Ustadz Muflih Safitra, seorang da'i yang diketahui aktif berdakwah di Balikpapan. Dalam video tersebut, Muflih Safitra mengkritik pendapat UAH yang mengartikan Surat Asy-Syua'ara sebagai surat musik.

"Pertama beliau ini sampai sejauh ini belum juga merubah cara berdalilnya, emang berdalilnya beliau ini banyak dicocoklogikan, dipaksakan, tidak berlandaskan manhaj salafus shalih, tidak menyandarkan pemahamannya kepada para ulama yang mu'tabar, yang betul-betul ahli tafsir," ujar Muflih dalam video berdurasi dua menit itu.
 
Sumber: inilah
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita