Massa Gerakan Aksi Pemakzulan Dilempari Kelompok Pro Jokowi di Depan Gedung DPR

Massa Gerakan Aksi Pemakzulan Dilempari Kelompok Pro Jokowi di Depan Gedung DPR

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Massa Gerakan Aksi Pemakzulan (GAP) Jokowi dilempari kelompok pro pemerintah.

Terduga pelaku mengaku dari elemen mahasiswa.

Kedua kelompok Pro dan Kontra Presiden Jokowi ricuh dua hari jelang pencoblosan Pilpres 2024,

Gerakan Aksi Pemakzulan Jokowi dilempari pakaibotol air minum saat gelar demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (12/2/2024).

Massa kontra Jokowi dilempari saat kedua kelompok itu saling menyampaikan aspirasi di depan Gedung DPR RI.

Berdasarkan pantauan Tribunnews.com di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB, massa dari pro pemerintah itu menyuarakan soal pembelaannya terhadap kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Mereka menyatakan, rencana pemakzulan yang dilontarkan oleh massa GAP merupakan aksi makar terhadap pemerintah.

Pernyataan itu diucapkan oleh salah seorang orator dari atas mobil komando.

Sementara itu di saat yang sama massa dari GAP menyatakan bahwa dalam 10 tahun pemerintahan Jokowi telah terjadi sejumlah pelanggaran hukum termasuk di Mahkamah Konstitusi (MK).

"Presiden Jokowi sebagai eksekutif telah menjalankan kekuasaan dengan menghalalkan berbagai cara," cetus orator dari massa GAP.

Lantaran penyampaian orasi itu berlangsung secara bersamaan sehingga suara mereka saling beradu.

Baik dari massa pro pemerintah maupun massa GAP saling tak mau kalah.

Mereka tampak tetap meneruskan orasinya masing-masing saat berunjuk rasa di depan DPR.

Namun sesaat kemudian terdengar orator dari massa pro pemerintah meneriaki massa dari GAP untuk berhenti berorasi dan menunggu selama 10 menit.

Akan tetapi massa dari GAP yang didominasi oleh ibu-ibu dan pria lanjut usia itu tak menghiraukan permintaan itu dan tetap melanjutkan orasi.

Merasa tak digubris orator dari massa pro pemerintah pun sempat mengancam massa GAP dengan memerintahkan anggotanya untuk menyerang.

Massa GAP pun tetap kekeuh dengan pendiriannya untuk tetap berorasi.

Namun tiba-tiba massa pro pemerintah itu menghujani massa GAP dengan lemparan botol air mineral yang masih terisi air.

Meskipun dilempari botol, tampak massa GAP tak membalas serangan itu, mereka memilih tetap melanjutkan orasi mereka menyuarakan agar Jokowi dimakzulkan. 

Masyarakat harus tenang


Hari pencoblosan hanya tinggal satu hari lagi.

Masyarakat diimbau tetap tenang dan menjaga agar pemilu 14 Februari 2024 mendatang berjalan damai, jurdil, berkualitas dan berintegritas. 

Apalagi saat ini masih dalam situasi masa tenang dan kampanye tiga pasang capres telah selesai, masyarakat diimbau setop serang menyerang.

"Saat ini masa tenang saya sarankan kepada masyarakat mari kita berpikir tenang dan juga menjaga kebersamaan masing masing paslon karena mereka sudah selesai melaksanakan kampanye, jangan ada lagi serang menyerang dan juga saling fitnah memfitnah," ujar Pengamat Politik Jerry Massie, Senin(12/2/2024). 

Direktur Political and Public Policy Studies ini juga mengatakan kemunculan film dokumenter 'Dirty Vote' memang sempat membuat situasi menjadi tidak kondusif apalagi di masa tenang. 

"Apalagi kemarin muncul film Dirty Vote ini kan meresahkan pihak tertentu dan calon tertentu, " ujarnya. 

Oleh karena itu lanjut Jerry masyarakat harus tetap bersikap legawa siapapun presiden yang terpilih nanti dan tidak memunculkan fitnah serta upaya kampanye hitam atau 'Black Campaign'. 

"APK juga kan sudah diturunkan dan tidak ada kampanye marilah masyarakat miliki komitmen pilih capres terbaik sesuai hati nurani masing masing.

Siapa pun terpilih presiden kita yang akan memimpin bangsa ke depan tentu presiden terpilih bisa bawa dampak baik bagi Indonesia dan bekerja baik untuk rakyat dan memikirkan nasib rakyat.

Semboyan jurdil tetap ditegakkan. Marilah semua jangan ada saling serang menyerang karna masa tenang ini tidak ada lagi black campaign biar pemilu berjalan sesuai amanah undang undang," kata Jerry. (*)

Sumber: tribunnews
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita