Film Dirty Vote Disebut Kampanye Hitam, Walhi: Terlalu Jauh dan Mengada-ada

Film Dirty Vote Disebut Kampanye Hitam, Walhi: Terlalu Jauh dan Mengada-ada

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO  - Manager Kajian Kebijakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Satrio Manggala merespon soal Film Dirty Vote yang dianggap sebagian kalangan sebagai kampanye hitam (black campaign).

Menurut Satrio tudingan tersebut terlalu jauh dan mengada-ada.

"Saya kira terlalu jauh memperkirakan itu sebagai kampanye hitam. Tentu kalau kampanye berdasarkan Undang-Undang Pemilu punya definisinya sendiri," kata Satrio kepada Tribunnews.com, Senin (11/2/2024).


Satrio menjelaskan jika itu video itu disebut kampanye hitam maka dia mempertanyakan tiga pakar tersebut berkampanye untuk siapa.

"Karena film itu semuanya kena juga. Bukan hanya 02 itu faktanya. Misalnya ada rekam jejaknya, yang mana bentuk kecurangannya diurai di dalam Dirty vote itu," jelasnya.



Menurut dia  film itu terlalu terburu-buru diintepretasikan dan tidak ditonton secara utuh.

Atas sebab itu ia menilai sebaiknya dibalas dengan fakta lainnnya.

"Saya khawatir malah yang terlalu tergesa-gesa memberikan interpretasi itu tidak menonton secara utuh. Atau pun kalau tim paslon 02 kemarin berkeberatan dan menuduh sebaliknya," kata Satrio.


"Kita berharap memang ada suguhan fakta lain. Bukan hanya membantah dan justru menuduh dengan hal yang terlalu terlalu mengada-ngada," tegasnya.


Diberitakan sebelumnya Ketua Umum Golkar yang juga Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto meminta agar masa tenang Pemilu atau Pilpres 2024 tidak dibuat keruh.

Apalagi menurutnya masa kampanye Pemilu atau Pilpres 2024 telah berjalan dengan lancar dan aman.

Hal itu disampaikan Airlangga merespon munculnya film Dokumenter berjudul “Dirty Vote” yang menceritakan kecurangan Pemilu 2024.

"Saya rasa sih pemilu kan sudah berjalan dengan aman, tertib, dan berjalan dengan lancar jadi tidak perlu dibuat apa namanya dibuat keruh," kata Airlangga usai rapat intern di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, (12/2/2024).

Airlangga mengatakan Indonesia merupakan negara dengan sistem demokrasi terbesar setelah Amerika Serikat dan India. Oleh karenanya ia meminta Pemilu tidak diganggu oleh hal hal yang belum tentu benar.

"Jadi ya kita dorong aja pemilu sesuai dengan mekanisme yang ada dan kita optimis jangan ada pemilu yang diganggu oleh hal hal semacam itu," katanya

Airlangga menilai film Dokumenter berjudul “Dirty Vote” merupakan bagian dari black campaigne atau kampanye hitam. Oleh karenanya terkait film tersebut tidak perlu banyak dikomentari.

"Itu kan namanya black movie, black campaign, ya kalo itu kan ngga perlu dikomentari," katanya.

Airlangga menilai film tersebut bermuatan politis karena dikeluarkan atau dirilis pada masa minggu tenang Pilpres 2024.

"Ya artinya kan namanya juga black movie (apalagi dikeluarin) pas minggu tenang akhir akhir ini," katanya

Sumber: Tribunnews
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita