Sering Meledak, Seluruh Smelter Cina di Indonesia Diminta Diaudit

Sering Meledak, Seluruh Smelter Cina di Indonesia Diminta Diaudit

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Anggota Komisi VI DPR Mulyanto meminta pemerintah menghentikan sementara semua operasional smelter nikel asal Cina di Indonesia. Hal ini buntut insiden ledakan di PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) pada Minggu, 24 Desember 2023. Ledakan itu mengakibatkan 12 orang meninggal.

"Saya sangat prihatin kecelakaan kerja terjadi lagi di smelter perusahaan Cina. Beberapa waktu sebelumnya juga terjadi kecelakaan di smelter PT GNI yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia,"  ujar Mulyanto melalui keterangan tertulis kepada Tempo, Minggu, 24 Desember 2023. "Pemerintah perlu mengaudit semua smelter tersebut secara ketat."

Mulyanto juga mengatakan audit tersebut mesti dilakukan secara profesional, objektif, dan menyeluruh terhadap aspek keamanan dan keselamatan kerja. "Jangan sampai karena ada pertimbangan politik, Pemerintah mengabaikan aspek keamanan dan keselamatan kerja di perusahaan-perusahaan itu," ujar politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Menurut Mulyanto, kualitas barang yang digunakan untuk menunjang operasional smelter juga mesti dicek. Apalagi, kata dia, sebagian besar alat kerja di smelter milik Cina diimpor dari Cina juga. "Kita perlu tahu. Jangan-jangan barang dan suku cadang yang dipakai tidak memenuhi syarat yang ditentukan," tuturnya.

Lebih lanjut, Mulyanto mengatakan insiden di PT ITSS pagi ini mesti menjadi pelajaran berharga yang benar-benar dipahami. Apalagi, ledakan ini menjadi ledakan terbesar dalam sejarah pengoperasian smelter milik perusahaan Cina di Indonesia. Karena itu, pemerintah harus bersunguh-sungguh menindaklanjuti kasus ini sehingga penyebab ledakan bisa diketahui.

"Apakah karena faktor lemahnya keandalan pabrik, murni faktor kelalaian manusia, atau ada sebab-sebab lain? Pemerintah bertanggung-jawab untuk mengusut tuntas kasus ini," kata Mulyanto. 

Ia juga mengatakan insiden di PT ITSS harus menjadi  momentum pemerintah untuk mengevaluasi semua kesepakatan kerja sama dengan perusahaan Cina. "Pemerintah harus mencari akar-masalahnya sehingga dapat dicegah kejadian seperti ini berulang di masa depan," kata Mulyanto.

Diberitakan sebelumnya, ledakan tungku smelter terjadi di PT ITSS, salah satu tenant yang beroperasi di kawasan PT IMIP. Kecelakaan kerja terjadi sekitar pukul 05.30 dan mengakibatkan 51 korban. Sebanyak 12 korban di antaranya dilaporkan meninggal, sedangkan 39 lainnya mengalami luka ringan dan berat.

Media Relations Head PT IMIP Dedy Kurniawan menuturkan, insiden itu bermula dari kecelakaan yang dialami sejumlah pekerja saat melakukan perbaikan tungku dan pemasangan pada bagian tungku. Berdasarkan hasil investigasi awal, ledakan diperkirakan terjadi karena di bagian bawah tungku masih terdapat cairan pemicu ledakan. Walhasil, ledakan terjadi saat perbaikan.

"Di lokasi juga terdapat banyak tabung oksigen yang digunakan untuk pengelasan dan pemotongan komponen tungku. Akibatnya, ledakan pertama memicu beberapa tabung oksigen di sekitar area ikut meledak," ujar Dedy melalui keterangan tertulisnya.

Sumber: tempo.