Poltekkes Sambas Gelar Sosialisasi Germas: Bangkitkan Kesadaran Hidup Sehat di Wilayah Perbatasan

Poltekkes Sambas Gelar Sosialisasi Germas: Bangkitkan Kesadaran Hidup Sehat di Wilayah Perbatasan

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan Malaysia, kini menjadi pusat perhatian dalam upaya nasional Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Pada Rabu, 15 Oktober 2025, Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Sambas (cabang Pontianak) menggelar sosialisasi Germas bertajuk “Sambas Sehat, Indonesia Kuat” di Aula Poltekkes Sambas, Jl. Raya Sejingkat. Acara ini dihadiri 300 peserta dari berbagai unsur: siswa SMA/SMK, kader posyandu, ibu-ibu PKK, tokoh masyarakat, serta perwakilan TNI-Polri di perbatasan. Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen Poltekkes Sambas dalam mendukung program prioritas Kementerian Kesehatan untuk menekan angka penyakit tidak menular (PTM) dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat perbatasan.


Germas yang digaungkan sejak 2016 memiliki tujuh pilar utama:

  • Aktivitas fisik 30 menit sehari
  • Konsumsi buah dan sayur
  • Tidak merokok
  • Tidak konsumsi alkohol
  • Periksa kesehatan rutin
  • Jaga kebersihan lingkungan
  • Gunakan jamban sehat

Direktur Poltekkes Kemenkes Sambas, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, membuka acara dengan menegaskan bahwa Germas bukan sekadar slogan, tapi gaya hidup yang harus diterapkan di Sambas yang rawan penyakit tropis dan PTM. “Di perbatasan, akses kesehatan terbatas, tapi kita punya kekuatan masyarakat yang solid. Dengan Germas, kita bisa cegah hipertensi, diabetes, dan stunting sejak dini,” ujarnya, seperti dikutip dari https://poltekkessambas.org.

Sosialisasi ini melibatkan 150 mahasiswa Poltekkes Sambas dari Jurusan Keperawatan, Gizi, dan Kesehatan Masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi peserta, tapi juga fasilitator: menggelar senam bersama, demo memasak makanan bergizi berbasis pangan lokal (ikan sungai, sayur daun singkong, pepaya), serta pemeriksaan kesehatan gratis (tensi, gula darah, BMI). Hasilnya mengkhawatirkan: 28% peserta usia produktif memiliki tekanan darah tinggi, 15% pra-diabetes, dan 22% overweight—data yang mencerminkan gaya hidup kurang gerak dan pola makan tinggi gula-garam.
Ns. Halina Rahayu, M.Kep, salah satu pemateri, menekankan pentingnya aktivitas fisik dan cek kesehatan rutin. “Di Sambas, banyak yang kerja di kebun atau nelayan, tapi begitu pulang langsung rebahan nonton HP. Itu risiko besar PTM,” katanya. Mahasiswa juga membagikan 500 paket buah dan booklet Germas dalam bahasa Melayu Sambas agar mudah dipahami masyarakat lokal.

Kegiatan ditutup dengan deklarasi “Sambas Germas” oleh seluruh peserta dan penandatanganan komitmen oleh camat, kepala desa, serta kepala sekolah. Poltekkes Sambas berencana melanjutkan program ini dengan roadshow ke 19 kecamatan hingga Desember 2025, menargetkan 10.000 warga. “Kami jadikan Germas sebagai mata kuliah wajib lapangan. Mahasiswa kami akan jadi agen perubahan di setiap kampung,” tegas Dr. Siti Nurhaliza.

Dengan sosialisasi ini, Poltekkes Sambas tidak hanya mencetak tenaga kesehatan, tapi juga membentuk masyarakat perbatasan yang sadar kesehatan. Di wilayah yang sering terlupakan, Germas menjadi senjata ampuh untuk hidup lebih lama dan berkualitas. Sambas sehat, perbatasan kuat—itu janji yang kini mulai diwujudkan.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita