Prabowo: Bangsa Kita Jangan Naif dan Terlalu Lugu, Nanti Jadi Korban Terus

Prabowo: Bangsa Kita Jangan Naif dan Terlalu Lugu, Nanti Jadi Korban Terus

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, bicara soal potensi Indonesia untuk dapat menjadi negara maju. Menurutnya, selama mengamati perkembangan dan situasi dari waktu ke waktu, semakin meyakinkan dirinya bahwa Indonesia merupakan negara kaya raya.

"Negara kita demikian besarnya, demikian kayanya, demikian penuh dengan potensi," kata Prabowo saat bertemu dengan relawan Jokowi wilayah Jateng dan Jatim serta Gibran Rakabuming Raka di Omah Semar, Kelurahan Jajar, Kecamatan Laweyan, Solo, Jumat (19/5).

"Tapi juga karena kaya dan karena penuh potensi kita selalu dalam sejarah kita kita selalu diganggu, kita selalu diambil kekayaan kekayaan kita, kita selalu diadu domba dan dipecah belah, ini adalah sejarah kita, ratusan tahun," sambung capres dari Partai Gerindra itu.

Prabowo mengatakan, politik yang digunakan untuk memecah belah bangsa Indonesia itu adalah Devide et Impera yakni politik pecah belah atau adu domba. Ilmu itu, kata Prabowo, yang digunakan oleh bangsa lain untuk menguasai sumber-sumber strategis Indonesia selama ratusan tahun. 

Namun demikian, lanjut dia, bukan berarti karena hal tersebut, bangsa Indonesia harus membenci bangsa lain. Prabowo mengaku kerap mengajak rekan-rekannya untuk tidak membenci orang asing, tetapi justru belajar dari mereka. 

Kita harus belajar dari mereka, tapi kita juga jangan naif jangan terlalu lugu, kalau terlalu lugu saya kira kita akan jadi korban terus.
-Prabowo Subianto

Menurut Prabowo, hal tersebut saat ini juga tengah digagas oleh Presiden Jokowi dalam pemerintahannya. Salah satu yang didorong yakni soal program hilirisasi.

"Sekarang beliau melaksanakan apa yang beliau sebut hilirisasi. Beliau sekarang katakan tidak boleh lagi Indonesia izinkan bahan-bahan kekayaannya diekspor dalam bentuk tidak diolah, dalam bentuk mentah sebagai bahan baku. Harus diolah di Indonesia," kata Prabowo yang saat ini menjabat Menteri Pertahanan.

Menurutnya, bahan baku yang diolah terlebih dahulu akan meningkatkan nilai tambah dari barang tersebut hingga puluhan bahkan ratusan kali lipat. Di era Jokowi, hal tersebut mulai dilakukan dengan mengolah nikel. Prabowo menyebut, hal itu juga akan segera dilakukan terhadap komoditas lainnya. 

"Nah ini menimbulkan bangsa-bangsa lain kurang suka, kita mulai digugat iya kan, ke WTO (World Trade Organization), nanti di ini, di itu, kita harus siap-siap. Tapi enggak ada jalan lain, apa yang beliau (Jokowi) katakan bener, saya dukung sekali. Kalau kita tidak berani hilirisasi, tidak mungkin kita jadi negara makmur, sudah tidak usah berharap, begini-begini aja terus," kata dia.
"Tapi kalau kita berhasil dan berani, kita akan lompat," pungkasnya.

Sumber: kumparan
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita