Pilpres 2024 Hanya Diikuti 2 Paslon? Rocky Gerung Ungkap CSIS Pernah Dijuluki 'China Sekitar Istana'

Pilpres 2024 Hanya Diikuti 2 Paslon? Rocky Gerung Ungkap CSIS Pernah Dijuluki 'China Sekitar Istana'

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Pengamat Politik Rocky Gerung mengomentari pernyataan Pendiri lembaga peneliti CSIS Jusuf Wanandi mengenai pemilihan presiden atau Pilpres 2024 mendatang.

Di acara milik Jurnalis senior Rosi di kanal YouTube Kompas TV, Jusuf Wanandi mengungkap perihal Pilpres 2024 yang sebaiknya hanya diikuti dua kandidat calon presiden.

Mulanya, Rosi mempertanyakan kemungkinan penambahan poros baru selainn poros yang sudah terbentuk yaitu Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan.

Menanggapi pernyataan tersebut, Jusuf Wanandi justru mengungkap bahwa koalisi yang menginginkan keberlanjutan rezim Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan berupaya membuat Pilpres hanya diikuti 2 pasang calon.

“Kalau saya melihat temen-temen kita ini yang berjuang ini pasti tidak akan membiarkan ini menjadi empat ataupun kalau bisa jangan tiga. Jangan tiga calon karena terlalu banyak harus memperkirakan jadi ndak jadinya itu,” ujarnya dalam acara tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Rocky mengungkit genealogi CSIS yang di masa orde baru berusaha mengendalikan politik dengan biaya yang fantastis.

“Kita tahu genealogi dari CSIS yaitu satu tingteng yang berupaya untuk mengendalikan politik di masa orde baru. Di situ mungkin uang separo dari kabinet itu disetor ke CSIS,” ujar Rorcky, dikutip WE NewsWorthy dari kanal YouTube pribadi pada Minggu (28/5/2023).

Rocky bahkan mengenang ketika dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa, CSIS kerap dipelesetkan kepanjangannya menjadi ‘China Sekitar Istana’.

“Dulu bahkan waktu saya masih mahasiswa, CSIS itu diplesetkan jadi China Sekitar Istana. CSIS. Itu karena memang yang disebut dulu konglomerat itu kebanyakan dari CSIS,” ujarnya.

Ahli ilmu filsafat ini kemudian mengatakan bahwa dirinya mengakui riset CSIS memang bagus. Hanya saja, CSIS dianggap terlibat dengan kepentingan kekuasaan.

“Ini satu lembaga yang sebetulnya risetnya bagus-bagus aja. Tetapi, karena kepentingan kekuasaan maka CSIS mengambil resiko untuk membela Pak Harto. Di belakang hari kemudian CSIS juga kritis kepada Pak Harto,” jelas Rocky.

Sumber: newsworthy
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita