Awas Perang AS-China Pecah, Elon Musk-Warren Buffett Kasih Warning

Awas Perang AS-China Pecah, Elon Musk-Warren Buffett Kasih Warning

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Ancaman perang bakal pecah di Asia makin menjadi. Ini bahkan diteriakkan pemimpin bisnis berpengaruh seperti CEO Tesla, Elon Musk dan bos Berkshire Hathaway, Warren Buffet.

Semakin buruknya hubungan Amerika Serikat (AS) dengan China dan naiknya tensi di Taiwan mendorong potensi konflik. Ini juga diyakini akan berdampak pada Pemilu Presiden AS di 2024.

"Kebijakan resmi China adalah bahwa Taiwan harus diintegrasikan. Seseorang tidak perlu membaca yang tersirat, dia cukup membaca barisnya," kata Musk dalam wawancaranya dengan CNBC International, pekan lalu, dimuat Senin (22/5/2023).

"Jadi saya pikir ada yang pasti, ada beberapa situasi yang tak terhindarkan," tegasnya menambahkan bahwa itu akan berdampak buruk bagi perusahaan mana pun di dunia.

Tesla sendiri bulan lalu mengumumkan rencana untuk membuka pabrik baru di Shanghai. Perusahaan berkomitmen membangun baterai "Megapack" di negeri Presiden Xi Jinping itu.

Hal senada juga diperlihatkan Buffett. Selangkah lebih maju, ia terungkap telah sepenuhnya meninggalkan saham yang baru diakuisisi di perusahaan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co, yang sebelumnya dibelinya dengan nilai US$4 miliar.

Taiwan Semiconductor Manufacturing Co, adalah perusahaan chip terbesar di dunia, yang berbasis di Hsinchu, Taiwan. Ini memproduksi sebagian besar semikonduktor canggih yang digunakan oleh perusahaan teknologi terkemuka seperti Apple, Amazon, Google, Qualcomm.

Buffett mengatakan dalam beberapa pekan terakhir bahwa perselisihan atas Taiwan "tentu menjadi pertimbangan" dalam keputusannya untuk melepas saham selama dua kuartal fiskal terakhir. Dalam laporan analis awal bulan ini, Buffett mengatakan bahwa sementara perusahaan itu "luar biasa", dia telah "mengevaluasi kembali posisinya mengingat hal-hal tertentu yang sedang terjadi.

"Saya merasa lebih baik tentang modal yang kami gunakan di Jepang daripada Taiwan. Dan saya berharap tidak demikian, tapi saya pikir itu kenyataan, "katanya dimuat laman yang sama.

Sementara itu, Ray Dalio, pendiri hedge fund raksasa Bridgewater Associates, juga menulis postingan panjang di LinkedIn April lalu. Ia memperingatkan bahwa A.S. dan China berada di "ambang perang", meski merujuk ke perang sanksi daripada kekuatan militer.

Bagi China, Taiwan adalah bagian dari negrinya. Xi Jinping dengan tegas Sudan mengatakan bahwa Taiwan akan direbut dengan cara apapun.

AS sendiri, meski tak mengakui Taiwan sebagai negara dan berkonsep pada satu China, merupakan pendukung utama Taipe. Sejumlah kunjungan sempat dilakukan untuk menunjukan dukungan termasuk penjualan senjata.

"Ini membuat saya frustrasi," kata analis kebijakan senior Longview Global Dewardric McNeal dalam sebuah wawancara dengan CNBC International menanggapi sikap tiga pesohor itu.

"Kami telah membicarakan hal ini selama bertahun-tahun, dan kami juga telah mencoba memperingatkan agar tidak terlalu bergantung pada China sebagai sumber produk dan produk manufaktur Anda," tegasnya.

"Sejujurnya, adalah menguntungkan bagi China untuk menakut-nakuti investor dari Taiwan dan merusak atau menodai ekonomi itu, karena itu adalah salah satu skenario bahwa mereka dapat membuat Taiwan tunduk tanpa intervensi bersenjata," kata McNeal lagi mencatat Berkshire Hathaway masih memegang saham di BYD, pembuat mobil listrik yang berbasis di Shenzhen, China.

Sumber: cnbc
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita