Soal Wacana Proporsional Tertutup, Nasdem: Rakyat Seperti Dipaksa Memilih Kucing dalam Karung

Soal Wacana Proporsional Tertutup, Nasdem: Rakyat Seperti Dipaksa Memilih Kucing dalam Karung

Gelora Media
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO -Partai Nasdem mengkritik pernyataan Ketua KPU Hasyim Asyari yang melontarkan kemungkinan menggunakan sistem proporsional tertutup dalam Pemilu 2024. Selain dinilai tidak patut dan tidak etis, pernyataan tersebut juga melangkahi wewenang dan dan kapasitas Hasyim sebagai Ketua KPU.

Demikian penegasan Wakil Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya, melalui kerterangannya yang dikutip Kantor Berita RMOLJakarta, Sabtu (31/12).




Willy menekankan, wacana untuk kembali ke sistem proporsional tertutup adalah kemunduran dalam berdemokrasi. Menurutnya, hal tersebut hanya ekspresi kemalasan berpikir untuk membangun kemajuan dalam kehidupan politik.

Ia juga menyatakan bahwa sistem proporsional terbuka adalah bentuk kemajuan dalam praktik berdemokrasi. Sistem proporsional terbuka adalah antitesis dari sistem yang sebelumnya yakni sistem proporsional tertutup.

“Demokratisasi sepatutnya bukan memundurkan yang telah maju, tetapi memperbaiki dan menata ulang hal yang kurang saja. Yang terjadi pada sistem pemilu jika benar kembali ke sistem proporsional tertutup maka terjadi kemunduran luar biasa," kata Willy.

"Selain menutup peluang rakyat untuk mengenal caleg, rakyat juga dipaksa memilih 'kucing dalam karung',” sambungnya.

Willy menjelaskan sistem proporsional terbuka dahulu dipilih untuk menjawab persoalan kesenjangan representasi. Karena ada kelemahan pengenalan dan saluran aspiratif rakyat dengan wakil rakyatnya dalam sistem proporsional tertutup.

Di dalam sistem semacam itulah “perlombaan” untuk mendapatkan nomor urut kecil menjadi pertarungan tersendiri di dalam partai. Sehingga, asal dekat dengan penguasa partai, maka soal kinerja yang buruk tidak akan pernah menjadi soal.

“Proporsional terbuka memungkinkan beragam latar belakang sosial seseorang untuk bisa terlibat dalam politik elektoral. Dengan sistem semacam ini pula, warga bisa turut mewarnai proses politik dalam tubuh partai,” kata Willy.

Wakil Ketua Baleg DPR ini tidak menyangkal bahwa masih ada PR dan kekurangan dalam sistem pemilu yang dijalankan saat ini.

“Namun jangan karena kekurangan yang ada, pilihannya adalah kemunduran. Itu sesat pikir namanya. Kalau kita ingin memperbaiki maka harus maju cara berpikirnya, bukan beromantisme dengan sistem lama yang dulu kita koreksi sendiri," demikian Willy. 

Sumber: RMOL
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita