Presiden AS Joe Biden: Perang Afganistan Berakhir, Ini Pelajaran Buat Kami

Presiden AS Joe Biden: Perang Afganistan Berakhir, Ini Pelajaran Buat Kami

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO -  Presiden Amerika Serikat Joe Biden berpidato di Gedung Putih, sehati setelah pasukan terakhir negerinya angkat kaki dari Kabul, Afganistan.

"Sudah waktunya mengakhiri perang," kata Joe Biden dalam kesempatan itu.

Dalam pidatonya, Selasa (31/8/2021), Presiden Joe Biden mengatakan "perang di Afganistan kini telah berakhir”.

Biden berbicara di hadapan publik sehari setelah pasukan terakhir AS tinggalkan Kabul, yang menandai berakhirnya perang selama 20 tahun.

Jatuhnya Afganistan ke tangan Taliban telah mengakibatkan ribuan warga melarikan diri. Setelah pesawat terakhir AS lepas landas dari Kabul, Senin (30/8), Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul langsung dikuasai oleh Taliban.

Apa kata Biden terkait perang di Afganistan?

Biden mengatakan, diakhirinya perang di Afganistan adalah perwujudan komitmen dirinya terhadap rakyat Amerika.

Menurut Biden, AS telah menghabiskan biaya $300 juta setiap harinya di Afganistan sehingga sudah waktunya bagi AS untuk pergi.

"Saya menolak untuk membuka perang satu dekade lagi di Afganistan,” kata Biden.

Dia menambahkan, selama ini 800.000 pasukan Amerika telah bertugas di negara itu dan 2.461 di antara mereka tewas, termasuk 13 "pahlawan” yang tewas akibat bom bunuh diri di Kabul pekan lalu.

Biden telah menerima banyak kritik menyusul penarikan pasukan AS dari Afganistan, tetapi ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan memperpanjang "perang tanpa akhir” tersebut.

"Sudah waktunya mengakhiri perang,” katanya mengulangi.

Kata Biden soal evakuasi

Pada momen yang sama, Biden juga berbicara tentang proses evakuasi yang selama ini berlangsung dari Afganistan.

Menurutnya, evakuasi ini adalah salah satu evakuasi via udara terbesar dalam sejarah.

"Tidak ada satu pun negara yang pernah melakukan hal seperti itu,” katanya.

Biden mengatakan, AS telah berhasil mengevakuasi 90 persen warga Amerika, bersama dengan ribuan diplomat Afganistan dan staf pendukung.

Menurutnya, lebih dari 120.000 orang telah berhasil dievakuasi ke tempat yang aman, dan jumlah ini kata Biden, dua kali lipat lebih dari perkiraan para ahli kebanyakan.

Biden juga menjawab kritik yang mengatakan bahwa evakuasi sejatinya bisa dilakukan lebih awal dengan cara yang lebih teratur.

"Bayangkan kalau kita sudah memulai evakuasi pada Juni atau Juli, membawa ribuan tentara Amerika dan mengevakuasi lebih dari 120.000 orang di tengah perang saudara, pasti akan terburu-buru ke bandara, belum lagi gangguan dan kepercayaan akan kendali pemerintah,” katanya seraya menambahkan bahwa "itu masih akan menjadi misi yang sangat sulit dan berbahaya.”

Pelajaran untuk AS

Dalam pidatonya, Biden juga mengisyaratkan arah baru terkait kebijakan luar negeri AS, bahwa negara itu telah mendapat pelajaran penting di Afganistan.

"Pertama, kita harus menetapkan misi dengan tujuan yang jelas dan dapat dicapai, bukan kebalikannya,” katanya.

"Dan kedua, tetap fokus dengan kepentingan keamanan nasional fundamental Amerika Serikat.”

"Ini adalah tentang mengakhiri era operasi militer besar untuk merangkai ulang, negara lain,” tambahnya.

Biden menjelaskan maksudnya bahwa AS harus "beralih dari pola pikir terkait pengerahan pasukan skala besar semacam itu.”

Namun, ia juga menegaskan bahwa "hak asasi manusia akan menjadi pusat kebijakan luar negeri AS."

Pada saat yang sama, Biden menjelaskan bahwa "ancaman teror telah menyebar ke seluruh dunia jauh melampaui Afganistan.”

"Kewajiban mendasar seorang presiden menurut saya, adalah untuk membela dan melindungi Amerika, bukan dari ancaman tahun 2001, tetapi dari ancaman tahun 2021 dan ancaman di hari esok,” tambahnya.

"Itulah prinsip panduan di balik keputusan saya tentang Afganistan.” "Dunia sedang berubah,” lanjutnya.

"Tidak ada yang lebih diinginkan oleh Cina atau Rusia dalam kompetisi ini selain melihat Amerika Serikat terjebak selama satu dekade lagi di Afganistan.” [suara]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita