Jubir Taliban Bantah Tuduhan Anggotanya Tembak Mati Polwan yang Sedang Hamil 8 Bulan
logo

8 September 2021

Jubir Taliban Bantah Tuduhan Anggotanya Tembak Mati Polwan yang Sedang Hamil 8 Bulan

Jubir Taliban Bantah Tuduhan Anggotanya Tembak Mati Polwan yang Sedang Hamil 8 Bulan


GELORA.CO - Komitmen Taliban untuk menghormati hak-hak perempuan Afghanistan kembali menjadi sorotan, setelah beredar kabar seorang polisi wanita yang sedang hamil ditembak mati kelompok tersebut.

Kematian perempuan warga provinsi Ghor, Afghanistan tengah, itu dikonfirmasi sendiri oleh anaknya kepada CNN. Dia mengatakan perempuan bernama lengkap Negar Masoomi itu ditembak tepat di hadaoan keluarganya.

Kasus ini juga dikonfirmasi ke CNN oleh seorang jurnalis lokal di Ghor, yang mengatakan perempuan itu bekerja di penjara Ghor dan sedang hamil delapan bulan ketika dia meninggal.

Video yang diperoleh CNN menunjukkan putranya yang bernama Mohammad Hanif memberikan keterangan tentang pembunuhan itu, mengatakan bahwa Taliban masuk ke dalam rumah tempat keluarganya tinggal, kemudian membawa dirinya dan saudara-saudaranya ke luar dan mengikat mereka.

"Mereka membunuh ibu kami di depan mata kami. Mereka membunuhnya dengan pisau," kata Hanif.

Karena dia hamil, kata Hanif, Taliban melakukan dua pembunuhan dan dia meminta pemerintah untuk bertindak menemukan para pembunuh dan membawa mereka ke pengadilan.

"Jika tidak ada yang dilakukan, kita mungkin harus mengambil tindakan hukum sendiri," ancam Hanif.

Bilal Kareemi, juru bicara Taliban, membantah tuduhan itu.

"Dia tidak dibunuh oleh Mujahidin Imarah Islam, mungkin karena permusuhan pribadi, tapi kami belum menerima hasil akhir dari penyelidikan," katanya.

"Mujahidin kami sedang sibuk menyelidiki insiden itu dan kami akan berbagi dengan Anda temuan akhir kami segera setelah kami menerimanya," ujarnya.

Para pemimpin Taliban telah bersikeras secara terbuka bahwa perempuan akan memainkan peran penting dalam masyarakat di Afghanistan dan memiliki akses ke pendidikan.

Kelompok itu hingga kini masih terlibat dalam pembicaraan mengenai pembentukan pemerintahan, tetapi dalam beberapa pekan terakhir telah mengisyaratkan perempuan harus tinggal di rumah, dan, dalam beberapa kasus, militan telah memerintahkan perempuan untuk meninggalkan tempat kerja mereka.

Langkah-langkah ini bertentangan dengan upaya kelompok itu untuk tampak lebih toleran, dan malah memicu ketakutan akan kembalinya kebijakan keras pemerintahan Taliban dua dekade lalu, ketika perempuan menghilang dari kehidupan publik.

Beberapa wanita Afghanistan sudah memilih untuk tetap berada di dalam rumah karena kekhawatiran meningkat atas keselamatan mereka, dengan beberapa keluarga membeli burqa ukuran penuh untuk kerabat wanita. [rmol]