Jarang Jajan karena Ayah Tak Mampu, Balita di Tegal Hobi Makan Pecahan Tembok
logo

12 September 2021

Jarang Jajan karena Ayah Tak Mampu, Balita di Tegal Hobi Makan Pecahan Tembok

Jarang Jajan karena Ayah Tak Mampu, Balita di Tegal Hobi Makan Pecahan Tembok


GELORA.CO -  VF, balita berusia tiga tahun, di Kota Tegal punya kebiasan aneh dan tak layak untuk ditiru. Sejak berusia dua tahun, ini memiliki kegemaran memakan tanah dan pecahan tembok.

Diduga kebiasaan itu timbul karena orangtua hampir tidak pernah membelikan jajan karena tergolong tidak mampu secara ekonomi.

"Sejak mulai bisa jalan sudah makan tanah sama pecahan-pecahan tembok. Saat itu usianya dua tahun," kata ibu VF, Umrotun, kepada wartawan, Sabtu (11/9/2021).

Ia bercerita, awalnya ia pertama kali melihat anaknya memakan tanah dari puing-puing tembok saat di dalam rumah.

"Saat itu dia terlihat sedang mengorek-ngorek sambil memakan puing tembok rumah yang ambrol. Waktu itu sedang main sendiri saya tinggal memasak," kata Umrotun anak warga yang tinggal di Kelurahan Debong Lor, Kecamatan Tegal Barat.

Menurut Umrotun, tak hanya di dalam rumah, kebiasaan itu juga berlanjut saat di luar rumah. "Kalau main di luar rumah, tanah yang dimakan. Katanya enak. Akhirnya keterusan sampai sekarang," katanya.

Umrotun sendiri sudah sering sekali menegur dan melarangnya cukup keras. Agar jangan kembali melakukan tindakan itu.

Namun saat tidak dalam pengawasan, anak ketiganya itu kerap mengulangi tindakannya memakan tanah kering. "Kalau dilarang pasti nangis," ujarnya.

Meski hampir terbiasa makan tanah, bukan berarti tak memiliki risiko. VF kerap mengeluh sakit perut sesuai memakan tanah.

"Tapi memang belum pernah dibawa ke dokter. Kalau mengeluh paling saya beri obat puyer," ujarnya.

Umrotun sendiri mengaku tak mengetahui penyebab pasti mengapa anaknya memiliki kegemaran tersebut. Kendati ia mengaku jarang membelikan jajan untuk anaknya karena ia tak memiliki cukup uang.

"Mungkin saja karena tidak pernah dibelikan jajan. Makan nasi saja sekeluarga sehari bisanya dua kali," kata Umrotun.

Suaminya yang hanya seorang teknisi yang memperbaiki elektronik di rumahnya tak memiliki penghasilan cukup. Sementara ia hanya ibu rumah tangga.

"Kadang kalau ada orang datang servis TV baru dapat uang. Biasanya Rp 10.000 sampai Rp 25.000," katanya.

Meski tergolong tidak mampu, Umrotun mengaku belum pernah dapat bantuan dari pemerintah.

‎"Sama sekali belum pernah dapat bantuan karena mungkin tidak punya KK. Anak juga tak punya akta kelahiran. Karena memang kami nikah siri," pungkasnya. [kumparan]