'Tangannya Berlumuran Darah', Biden Didesak Mundur Usai Ledakan Kabul
logo

27 Agustus 2021

'Tangannya Berlumuran Darah', Biden Didesak Mundur Usai Ledakan Kabul

'Tangannya Berlumuran Darah', Biden Didesak Mundur Usai Ledakan Kabul


GELORA.CO - Serangan bom yang menewaskan 13 tentara Amerika Serikat (AS) dan puluhan warga Afghanistan di bandara Kabul mengguncang pemerintahan Presiden Joe Biden. Kritikan pun menghujani Biden, dengan para politikus Partai Republik menyebut 'tangan Biden berlumuran darah' dengan hilangnya banyak nyawa akibat ledakan itu.

Seperti dilansir AFP, Jumat (27/8/2021), Biden menjabat sebagai Presiden AS yang menjanjikan ketenangan situasi dalam negeri dan rasa hormat bagi AS di luar negeri, setelah bertahun-tahun masa traumatis di bawah mantan Presiden Donald Trump.

Serangan mematikan yang mengguncang bandara Kabul meninggalkan Biden dengan gunung yang harus didaki jika dia ingin meyakinkan negaranya dan mitra-mitra AS bahwa tujuan pemerintahannya masih bisa dicapai.

Perang di Afghanistan yang berlangsung selama 20 tahun bukan dimulai oleh Biden. Perang itu dimulai pada era Presiden George W Bush dari Partai Republik.

Biden justru menjadi presiden pertama dari total empat presiden setelah Bush yang sungguh-sungguh menepati janji untuk mengakhiri perang tak berkesudahan di Afghanistan. Tapi seperti pernah dikatakan Biden sendiri bahwa 'tanggung jawabnya berhenti' pada dirinya.

Itu berarti Biden tidak akan bisa melarikan diri dari kemarahan dan kengerian di dalam negeri atas gugurnya belasan tentara AS -- atau dampak politik dari itu.

"Tangan Joe Biden berlumuran darah," cetus anggota Kongres AS dari Partai republik, Elise Stefanik.

"Bencana keamanan nasional dan bencana kemanusiaan yang mengerikan ini semata-mata akibat kepemimpinan Joe Biden yang lemah dan tidak kompeten. Dia tidak layak menjadi panglima tertinggi," cetusnya.

Senator Republikan, Marsha Blackburn, dalam pernyataan via Twitter menyerukan agar Biden dan para penasihat keamanan nasionalnya 'harus mengundurkan diri atau menghadapi pemakzulan dan pemecatan dari jabatan mereka'.

Kemarahan Partai Republik bukanya tidak diprediksi. Namun dampak lebih luas tercermin dalam polling terbaru yang bisa mengkhawatirkan pemerintahan Biden. Polling terbaru USA Today/Suffolk University pada pekan ini mendapatkan bahwa sebagian besar warga AS meyakini perang Afghanistan tidak pantas diperjuangkan, namun tidak ada yang berterima kasih kepada Biden untuk mengakhirinya.

Polling terbaru menyebutkan angka kepuasan untuk Biden hanya 41 persen, dengan 55 persen lainnya merasa tidak puas dengan pemerintahannya.

"Saya tidak tahu apakah citra Biden akan rusak secara permanen. Tapi para Republikan akan melakukan apapun semampu mereka untuk melihatnya demikian," ucap seorang profesor pemerintah, Mark Rom, kepada AFP. [detik]