Sebut Denny dan Abu Janda Bisa Senasib HRS, Pengamat: Jika Presiden Berganti, Bisa Dikandangkan
logo

14 Juli 2021

Sebut Denny dan Abu Janda Bisa Senasib HRS, Pengamat: Jika Presiden Berganti, Bisa Dikandangkan

Sebut Denny dan Abu Janda Bisa Senasib HRS, Pengamat: Jika Presiden Berganti, Bisa Dikandangkan


GELORA.CO - Pegiat media sosial, Denny Siregar dikenal publik sebagai pendukung Presiden Jokowi. Bahkan, ia kerap disebut sebagai buzzer.

Denny Siregar dikenal sering menyerang pihak lain yang berseberangan dengan pemerintah. Ia hampir selalu sepakat dengan segala pernyataan dan kebijakan yang disampaikan pemimpin negara tersebut.

Denny juga terkadang melempar kritikan yang bersifat personal dan secara langsung menjurus ke sosok yang dituju. Itulah mengapa, tak jarang, lawan debatnya merasa sakit hati.

Baru-baru ini, ia menyerang keluarga SBY yang belakangan mengkritik kinerja pemerintah terkait penanganan pandemi di Indonesia.

Denny menyebut, mereka terlalu banyak bicara, seakan-akan paling jago. Padahal, selama memimpin, SBY menurutnya tak terlalu berhasil.

Denny bahkan mendapat label ‘kebal hukum’ dari masyarakat di Indonesia. Sebab, berulang kali dilaporkan ke polisi atas komentarnya yang dinilai provokatif. Namun, hasilnya tetap sama, dia selalu bebas dari berbagai tuduhan dan tudingan.

Menanggapi hal itu, Pengamat Politik Lingkar Wajah Kemanusiaan (LAWAN Institute) Muhammad Mualimin memberikan perhatian khusus kepada Denny Siregar.

Menurut dia, Denny Siregar merupakan pendukung buta yang selalu membela presiden apapun keputusannya.

“Denny Siregar jangan cinta buta dengan Jokowi,” kata Mualimin, dikutip dari Hops.id--jaringan Suara.com, Rabu 14 Juli 2021.

“Orang macam Denny dan Abu Janda bisa bernasib sama seperti Rizieq Shihab atau Jumhur Hidayat eks Kepala BNP2TKI hari ini,” sambungnya.

Mualimin menjelaskan, semua ini sebenarnya hanya soal iklim politik nasional. Buzzer seperti Denny bisa jemawa dan berbicara seenaknya karena situasinya mendukung. Kelak, saat kondisinya berubah, jangan harap dia bisa bicara seenaknya di muka publik.

“Akan tetapi pasca pilpres selanjutnya, jika presiden berganti warna partai, bisa-bisa buzzer tersebut mendapat giliran yang dikandangkan (di penjara),” kata dia. [suara]