PPKM Darurat, Luhut Sebut Pemerintah Akan Terus Tekan Mobilitas Warga
logo

14 Juli 2021

PPKM Darurat, Luhut Sebut Pemerintah Akan Terus Tekan Mobilitas Warga

PPKM Darurat, Luhut Sebut Pemerintah Akan Terus Tekan Mobilitas Warga


GELORA.CO - Koordinator PPKM Darurat wilayah Jawa dan Bali Luhut Binsar Pandjaitan terus memantau pengendalian dan penanganan Covid-19. Mulai dari penurunan mobilitas masyarakat ketersediaan tempat tidur pasien, penyediaan obat dan oksigen, vaksinasi, serta SDM tenaga kesehatan.

Berdasarkan data yang dihimpun terkait aktivitas warga pada tanggal 11 dan 12 Juli 2021, di wilayah Jawa dan Bali terus mengalami penurunan mobilitas warga. Walaupun terdapat beberapa wilayah yang justru mengalami peningkatan, seperti di wilayah Pantura (Pantai Utara) Provinsi Jawa Barat dan Jawa tengah.

“Saya berharap beberapa hari ke depan, banyak wilayah-wilayah yang kuningnya (penurunan mobilitas dari -20 hingga -30 persen, Red) bertambah,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (14/7).

Sebagai informasi, wilayah DKI Jakarta mengalami penurunan mobilitas secara keseluruhan sebesar -21,3 persen. Kemudian, pada wilayah Jawa Barat mengalami penurunan mobilitas sebesar -9,0 persen. Sedangkan, di wilayah Banten sebesar -18,1 persen.

Kemudian, lanjutnya, dalam upaya peningkatan kapasitas rumah sakit, pemerintah akan dilakukan melalui dua hal, yakni konversi tempat tidur di seluruh Jawa-Bali menjadi 40 – 50 persen untuk perawatan intensif & ICU dari keseluruhan total tempat tidur di Rumah Sakit.

Namun untuk daerah DKI Jakarta dikecualikan karena kapasitasnya sudah tidak mencukupi. Kemudian, untuk penambahan rumah sakit lapangan atau rumah sakit darurat yang akan dibantu oleh TNI.

“Saya minta bantuan dari TNI, BNPB, dan Kemenkes untuk terus mencari tempat yang akan dijadikan rumah sakit lapangan dan darurat. Demi membantu pasien yang masih mengantri,” tuturnya.

Dalam menentukan rumah sakit lapangan atau darurat, kata Luhut, pemerintah berupaya untuk mendapatkan tempat dengan kapasitas daya tampung yang besar. Hal ini dilakukan agar tenaga kesehatan tidak terserap banyak untuk pemecahan beberapa wilayah.

Selain itu, pemerintah juga berencana untuk menambah SDM tenaga kesehatan, baik untuk perawat dan dokter untuk mempersiapkan skenario terburuk. Untuk menarik minat relawan dokter dari dokter paska magang, diperlukan penyediaan fasilitas istirahat yang layak, memperoleh BPJS kesehatan, mendapatkan jaminan kecelakaan kerja, dan alokasi biaya komunikasi.

“Kita akan tambah perawat dan dokter yang baru lulus dan akan di training terlebih dahulu selama tiga hari,” imbuhnya.

Sementara, untuk menurunkan lonjakan kasus harian, pemerintah terus melakukan evaluasi dan penyekatan di beberapa titik di wilayah Jawa dan Bali. Penurunan mobilitas ini dipantau melalui tiga indikator, yakni Facebook Mobility, Google Traffic, dan Night Light dari NASA. Berdasarkan analisis historis dibutuhkan penurunan mobilitas -30 hingga -50 persen.[jawapos]