Beban Kerja Berat tapi Insentif Tak Kunjung Cair, Banyak Nakes Akhirnya Memilih Resign
logo

15 Juli 2021

Beban Kerja Berat tapi Insentif Tak Kunjung Cair, Banyak Nakes Akhirnya Memilih Resign

Beban Kerja Berat tapi Insentif Tak Kunjung Cair, Banyak Nakes Akhirnya Memilih Resign


GELORA.CO - Di tengah upaya penanganan pandemi Covid-19 yang belum mereda, sejumlah tenaga kesehatan (nakes) dikabarkan mengundurkan diri.

Beban kerja yang terlalu berat serta dana insentif yang tak kunjung cair disebut menjadi faktor di balik mundurnya para nakes tersebut.

Seperti diketahui, hingga saat ini lonjakan kasus Covid-19 masih terus terjadi di wilayah Indonesia.

Bahkan, berdasarkan data terbaru kasus harian Covid-19 telah mencapai angka 54 ribu lebih, per Rabu (14/7/2021) kemarin.

Hal ini tentu saja menambah beban kerja para nakes yang merupakan garda terdepan dalam penanganan Covid-19.

Ketua Dokter Indonesia Bersatu, Eva Sri Diana Chaniago, mengungkapkan sejumlah tenaga kesehatan (nakes) resign (mengundurkan diri) dari pekerjaan di tengah lonjakan kasus Covid-19.

"Gaji yang diterima mereka dari rumah sakit sekarang ini kan tidak sesuai dengan beban kerjanya. Sementara insentif dari pemerintah tidak cair. Ya mereka akhirnya lebih memilih resign," kata Eva kepada Kompas.com, Kamis (15/7/2021).

Eva mengatakan, gaji yang dibayarkan RS untuk nakes karyawan tergolong kecil. Bahkan, para nakes yang berstatus relawan sama sekali tak digaji oleh rumah sakit.

Karena itu, insentif bagi nakes di masa pandemi memang sudah menjadi suatu kewajaran.

Pemerintah sudah menetapkan besaran insentif berbeda-beda untuk tiap kategori nakes, mulai dari Rp5 juta  - Rp15 juta per bulan.

"Tapi pembayaran insentif ini sangat telat sekali. Insentif dari bulan November tahun lalu baru cair bulan ini," kata dia.

Sementara itu, beban kerja nakes sangat berat karena pasien Covid-19 terus berdatangan ke rumah sakit. Banyak nakes yang akhirnya jatuh sakit dan ikut tertular Covid-19.

Bahkan para nakes itu juga ikut menularkan virus ke keluarganya di rumah.

Dalam kondisi seperti ini, Eva menilai wajar banyak nakes yang akhirnya menyerah.

"Ada yang resign bilangnya mendingan dagang, ada yang mau sekolah lagi, ada juga yang dilarang oleh suami," kata dokter spesialis paru-paru itu.

Eva khawatir RS akan makin kolaps karena jumlah nakes terus berkurang di tengah lonjakan kasus Covid-19.

Ia mengatakan, pemerintah bisa saja menambah ruang perawatan atau isolasi sebanyak mungkin.

Namun, itu akan menjadi sia-sia jika tak ada tenaga kesehatan yang menangani pasien.

Karena itu, ia berpesan kepada pemerintah agar jangan sampai ada keterlambatan pembayaran insentif bagi nakes.

Eva juga berpesan agar pemerintah segera membayar utangnya ke rumah sakit.

"Jangan sampai rumah sakit juga tidak sanggup bayar nakes karena duitnya diutangin Kemenkes dan belum dibayar," ujar dia. [tribun]