Rumah Raja OTT KPK Harun Al Rasyid Didatangi Orang Tak Dikenal Beberapa Hari Sebelum TWK

Rumah Raja OTT KPK Harun Al Rasyid Didatangi Orang Tak Dikenal Beberapa Hari Sebelum TWK

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Harun Al Rasyid kaget dan khawatir saat salah seorang tetangganya memberi tahu kehadiran orang tak dikenal di kediamannya.

Kejadian itu sekitar lima hari sebelum tes wawasan kebangsaan (TWK) alih status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) berlangsung di Badan Kepegawaian Negara (BKN).

"Katanya Pak Haji ini mau naik jabatan'," kata Harun menirukan omongan tetangganya. Harun memang kerap disapa 'Pak Haji' oleh tetangganya.

Dua orang itu diketahui mendapat tugas untuk mencari tahu seluk beluk mengenai Harun. Berdasarkan informasi tetangganya, dua orang tersebut mendalami perihal kehidupan Harun. Ia lantas meminta tetangganya untuk memberikan keterangan yang sebenarnya.

"Enggak usah ditutupi, kasih jawaban saja," kata Harun.

Tak lama kemudian, Harun merasa khawatir ketika mengingat keluarganya. Seingat dia, peristiwa ini baru dialaminya selama ia bekerja di lembaga antirasuah.

Alumni Universitas Brawijaya ini mengatakan orang tak dikenal itu mencari tahu perihal kegiatan keagamaan yang ia lakukan sehari-hari.

Dari penuturan tetangganya, mereka menanyakan tentang, 'materi pengajaran di pesantren' dan 'kegiatan usai salat subuh di waktu Sabtu-Minggu'.

"Kebetulan si tetangga ini pernah kasih saya Alquran yang gede dan untuk anak-anak kecil itu. Ya, dia jawab, 'ya dia ngajarin Quran. 'Loh kok Bapak tahu dia ngajarin quran? Loh wong saya pernah kasih ke Pak Haji, terus pak Haji kasihkan ke anak-anak itu. Anak saya juga ngaji ke dia [Harun]," ujar Harun menirukan tetangganya.

Tetangganya juga memberi tahu bahwa dua orang tak dikenal tadi menanyakan paham-paham yang Harun anut. Dari sini, ia mulai menaruh kecurigaan. Ia lantas dengan cepat menghubungi pimpinannya yakni Nurul Ghufron untuk memberi tahu kejadian tersebut.

"Bos, kok ada gini ke rumah saya. 'Loh, saya juga enggak tahu'," kata Harun menirukan jawaban Ghufron.

"Ya, terus dia bilang gini, 'ya sudah lah itu dia paling pengin tahu kegiatan kamu. Kasih jawaban saja, enggak ada apa-apa juga. Itu semua pasti lolos kok. Tes ini cuma pemetaan. Enggak usah khawatir'," lanjutnya.

Hari berganti, tibalah Harun menjalani TWK di Kantor BKN. Ia mengaku kala itu sudah menunggu pertanyaan aneh sebagaimana yang sudah terungkap selama masa profiling sebelumnya.

Pewawancara, kata Harun, menyinggung masalah dana yayasan yang berasal dari Arab Saudi karena melihat namanya yang kearab-araban. Yayasan tersebut sendiri dikelola oleh istri Harun.

Harun menegaskan dana yayasan berasal dari gaji yang ia sisihkan sebagai pegawai KPK. Namun, kata dia, pewawancara tidak percaya.

"Kalau untuk yayasan ini, dari, ya dari gaji saya ini. Dia terus cecar itu. Begini, pak, ini repot, saya sudah menjelaskan Bapak enggak percaya. Nanti ada rekeningnya itu, Pak. Nanti Bapak lihat saja lah. Wong itu juga berapa sih paling enggak ada Rp20 juta, itu uang yang saya sisipi untuk anak-anak yatim dan dhuafa itu," kata Harun.

Kemudian, pewawancara beralih menanyakan perihal ajaran ataupun paham yang Harun berikan kepada anak-anaknya dan anak muridnya.

"Loh, ya saya ngajarin Alquran saja," ujarnya.

"Kitab-kitab yang [saya] punya itu ada. Apa perlu saya pulang dulu untuk lanjutkan wawancara ini, Bapak lihat saja apa semua kitab yang saya ajarkan itu," kata Harun.

Harun mencurigai pelaksanaan TWK karena berjalan tidak transparan. Kata dia, pewawancara enggan memperkenalkan identitas diri. Harun merupakan satu dari 75 pegawai KPK yang dinyatakan tidak lolos TWK dan terancam dipecat.
Ia pun mendesak KPK ataupun BKN membuka hasil TWK seterang-terangnya sehingga dapat diketahui mengenai nilai kurangnya.

Harun memetakan ada tiga isu dalam TWK ini, yakni netralitas, integritas, dan radikalisme.


Menurutnya, masalah integritas kata pimpinan sudah tak perlu diukur karena sudah belasan tahun di KPK.dijatuhkan dalam sebuah wawancara.

Terkait netralitas, kata Harun, pegawai KPK juga tak berafiliasi dengan partai atau kekuasaan tertentu.

"Nah, berarti saya enggak lulus di radikalisme. Kesimpulannya begitu. Kalau saya enggak lulus di bab radikalisme, ayo kita buka. Biar publik jangan dicecoki oleh semuanya kemudian fitnah," kata Harun yang juga orang Nahdliyin.

Harun, yang kemudian mendapat julukan 'Raja OTT' ini menduga kuat ketidaklolosannya dalam proses TWK berkaitan erat dengan sejumlah hal. Seperti di antaranya penanganan kasus, aktif di Wadah Pegawai (WP) KPK hingga sikapnya yang kritis menentang revisi Undang-undang KPK.

"Kalau saya (salahnya) jadi bertumpuk-tumpuk, ya. Kasus saya pegang, mengendalikan pegawai di WP juga pegang," ujarnya.

Penyidik KPK Mu'adz D'Fahmi tak percaya bila Harun tak lulus TWK alih status menjadi ASN. Mu'adz mengaku sangat mengenal Harun. Menurutnya, integritas Harun tak perlu diragukan lagi.

Ia sangat menentang keputusan pimpinan KPK yang menonaktifkan 75 pegawai karena dinilai tidak lolos TWK. Menurut dia, sejumlah nama dari daftar tersebut merupakan mereka yang berintegritas dan penuh dedikasi dalam pekerjaannya memberantas korupsi.

"Kalau masalah integritas, saya kenal betul lo orang-orang macam Novel Baswedan, Sujanarko, Harun Al Rasyid, Giri Suprapdiono, ini saya kenal betul orang-orang ini. Karena sejak awal-awal KPK berdiri saya sudah mengenal mereka," tandas Muadz.

"Untuk masalah kebangsaan dan pancasila, loh mereka itu bekerja demi NKRI dan itu perjuangannya enggak main-main, apalagi isunya korupsi," ujarnya.

Sejauh ini belum ada konfirmasi dari pihak BKN soal materi TWK tersebut.

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron mengaku tidak mengetahui materi dalam Tes Wawasan Kebangsaan tersebut. []
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita