Peningkatan Kasus Corona di Kudus Karena Tradisi, Mirip Seperti India
logo

5 Juni 2021

Peningkatan Kasus Corona di Kudus Karena Tradisi, Mirip Seperti India

Peningkatan Kasus Corona di Kudus Karena Tradisi, Mirip Seperti India


GELORA.CO - Kasus COVID-19 di Kudus, Jawa Tengah menggila. Drastisnya lonjakan kasus itu disebut akibat warga yang nekat menggelar tradisi saat Lebaran 2021.

Ada dua tradisi yang disebut jadi biang kerok meningkatnya kasus Corona di Kudus. Pertama, wisata religi berupa ziarah. Kedua tradisi kupatan yang biasa digelar 7 hari pasca Lebaran.


"Keadaan ini terjadi sebagai dampak dari adanya kegiatan wisata religi berupa ziarah, serta tradisi kupatan yang dilakukan oleh warga Kudus, 7 hari pasca-Lebaran. Hal ini memicu kerumunan dan meningkatkan penularan di tengah masyarakat. Hal ini diperparah dengan banyaknya tenaga kesehatan di sana yang saat ini telah menderita COVID-19 yaitu sebanyak 189 orang dan rumah sakit yang belum menerapkan secara tegas dan disiplin zonasi merah kuning dan hijau, triase pasien COVID-19 dan non COVID-19 serta keluarga pasien. Contoh dari ini adalah masih adanya pasien COVID-19 di rumah sakit yang didampingi oleh keluarganya, yang keluar masuk wilayah rumah sakit tanpa screening," kata juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam jumpa pers virtual, Jumat (4/6/2021).

Kasus Meningkat 30 Kali Lipat

Wiku mengungkapkan, akibat tradisi itu, kasus COVID-19 di Kudus meningkat 30 kali lipat. Persentase kenaikan kasus Corona di Kudus bahkan jauh lebih tinggi dengan skala nasional. Dampaknya, hampir seluruh rumah sakit rujukan COVID-19 penuh terisi.

"Kudus mengalami kasus positif secara signifikan dalam satu minggu, yaitu naik lebih dari 30 kali lipat. Dari 26 kasus menjadi 929 kasus. Hal ini menjadikan kasus di Kudus menjadi sebanyak 1.280 kasus atau 21,48 persen dari total kasus positifnya. Ini adalah angka yang cukup besar bila dibandingkan kasus aktif nasional yang hanya 5,47%," papar Wiku.

"Adanya kenaikan kasus positif ini menyebabkan tempat tidur ruang isolasi dan ruang ICU rujukan di COVID-19 mengalami kenaikan tajam. Bahkan per tanggal 1 Juni lebih dari 90% dari seluruh tempat tidur terisi. Ini adalah kondisi yang sangat memprihatinkan," sambungnya.

Minta Daerah Lain Waspada

Wiku kemudian mengingatkan kepada satgas penanganan COVID-19 di daerah lain untuk dapat mengantisipasi sebaran COVID-19. Khususnya mencegah kerumunan kegiatan keagamaan.

"Mohon agar satgas daerah dapat mengantisipasi tradisi dan budaya di wilayahnya masing-masing sehingga dapat segera menentukan penanganan dan kebijakan terbaik yang bisa dilakukan, agar kasus tidak meningkat tajam seperti di Kudus. Kami juga berharap pemerintah daerah dapat langsung melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat, utamanya apabila terdapat kesulitan untuk melakukan penanganan medis," ucapnya.

Mirip India

Melonjaknya kasus Corona di Kudus ini mengingatkan kita akan India. Akibat warga nekat menggelar tradisi keagamaan keagamaan Kumbh Mela, kasus Corona di sana melonjak.

Festival Kumbh Mela atau Festival Kendi merupakan salah satu ritual paling suci dalam agama Hindu. Ritual ini dirayakan empat kali selama 12 tahun.

Ritual mandi bareng ini biasanya dilakukan di empat lokasi Sungai Gangga, yakni Haridwar, Prayag, Ujjain, dan Nashik. Dengan mandi di keempat sungai tersebut, diyakini bisa membebaskan mereka dari dosa-dosa yang telah mereka perbuat.

Festival itu digelar tahun ini atas seizin pemerintah India. Sedikitnya 5 juta orang mengikuti kegiatan tersebut tanpa mengindahkan aturan jaga jarak dan abai memakai masker di tengah kerumunan. Ritual ini bahkan berlangsung selama beberapa hari.

Tak lama, kasus Corona di India pun mulai menggila. Per 4 Juni lalu, kasus harian di India mencapai 132.364 per hari, menjadikan total kasus di sana menjadi 28.574.350. Padahal, sebelumnya angka kasus di India sempat menurun tajam.

Rumah sakit penuh. Angka kematian yang meningkat pesat membuat panjang antrean pemakaman. Bahkan, banyak jenazah yang dilarung ke sungai. Hal itu membuat sejumlah sungai di India, khususnya tepi Sungai Gangga dipenuhi jenazah.

Banyak juga jenazah yang terpaksa dibakar. Lebih tragisnya, kondisi abu jenazah pasien banyak yang ditenggelamkan di sungai akibat tak adanya keluarga yang mengklaim atau mengambilnya setelah dikremasi.(dtk)