Pengamat: Jika Megawati Tidak Jadi Ketum Lagi PDIP Benar-benar Pecah
logo

28 Juni 2021

Pengamat: Jika Megawati Tidak Jadi Ketum Lagi PDIP Benar-benar Pecah

Pengamat: Jika Megawati Tidak Jadi Ketum Lagi PDIP Benar-benar Pecah


GELORA.CO - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dinilai masih tetap dalam kondisi solid, selama Megawati Soekarnoputri masih menjabat sebagai Ketua Umum PDIP.

Demikian Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menilai dinamika internal PDIP yang tengah terpecah akibat isu Pilpres 2024.

"PDIP di bawah Megawati masih akan tetap solid. Walaupun banyak faksi-faksi di internal PDIP. Namun kader-kader PDIP tetap patuh pada Megawati," ujar Ujang Komarudin saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Senin (28/6).

Menurut Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia ini, potensi perpecahan akan terjadi apabila Megawati sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketum.

Sebagai contoh, Ujang menyebut nama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang belakangan didukung oleh sejumlah kader PDIP untuk maju ke Pilpres 2024 mendatang.

Namun akibat isu ini, Ujang menilai faksi lain di tubuh PDIP mengambil sikap yang berlainan melalui sejumlah gimmick politik. Sehingga, meskipun elektabilitas Ganjar moncer di dalam survei, ia belum tentu menang. Karena bagaimanapun PDIP juga sudah mengetahui kartunya Ganjar.

"Cuma memang yang bikin PDIP dan Megawati pusing, Puan Sang 'putri mahkota' elektabilitasnya masih belum kelihatan," demikian Ujang Komarudin.

Dalam hasil riset Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA disebutkan, Megawati Soekarnoputri sebagai Queen Maker Pilpres 2024 dihadapkan pada dilema memilih Ganjar Pranowo atau Puan Maharani.

Kondisi Di internal PDIP sendiri sudah terbelah menjadi dua kubu. Yakni mereka yang mendukung Ganjar dan di sisi yang lain mendukung Puan Maharani.

Apalagi setelah Ketua DPD PDIP Jawa Tengah, Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul menempatkan Puan sebagai “Teh Botol Sosro”. Yang artinya, Pacul memastikan Ketua DPR RI itu bisa dipasangkan dengan siapa saja di Pilpres 2024.

Kemudian, kehadiran pendukung Jokowi tiga periode tidak hanya memecah kubu menjadi tiga faksi, tapi juga membuat partai kurang terkonsolidasi dan dikhawatirkan gagal melanjutkan kesuksesan sebagai partai pemenang Pemilu. []